Semangat Fokus Sukses


Sabtu, 02 April 2016

TIGA KERAJAAN BESAR



I.              PENDAHULUAN
          Kesempurnaan ajaran Islam telah berhasil membuat perubahan besar bagi peradaban manusia. Sejarah mencatat, sejak ajaran yang dibawa nabi Muhammad tersebut disampaikan kepada umat manusia, mampu membuat kemajuan disemua bidang kehidupan, bukan hanya bidang duniawi semata tetapi juga bidang sosial budaya, mental, dan spiritual. Bangsa Arab, tempat diturunkannya ajaran Islam, sebelumnya dikenal sebagai bangsa yang diliputi zaman jahiliyah, setelah Islam datang mereka mampu tampil menjadi bangsa yang berperadaban dan meraih kehidupan yang maju serta menjadi pelopor diantara bangsa-bangsa yang lain. Madinah sebagai awal terbentuknya masyarakat yang menerapkan kehidupan yang dijiwai dengan ajaran Islam, dipimpin oleh Rasulullah, dilanjutkan oleh Khulafa al-Rasyidin, Bani Umayah, Bani Abasiyah hingga berbagai wilayah dipermukaan bumi, termasuk dinasti Turki Usmani, dinasti Safawi dan dinasti Mugal.
          Makalah ini akan membahas tentang sejarah peradaban Islam tiga kerajaan besar yaitu pada masa dinasti Turki Usmani, dinasti Safawi dan dinasti Mugal. Dinasti Turki Usmani (1300-1922 M) berpusat di Istanbul, dinasti Shafawi (1501-1732 M) berpusat di Persia dan dinasti Mughal berpusat di India.


II.           PERMASALAHAN
1.      Bagaimana sejarah peradaban Islam pada masa dinasti Turki Usmani hingga Mustafa Kemal?
2.      Bagaimana sejarah peradaban Islam pada masa dinasti Shafawi Persia hingga Khumaini?
3.      Bagaimana sejarah peradaban Islam pada masa dinasti Mughal India hingga terbentuknya Bangladesh?




III.        PEMBAHASAN
1.      Dinasti Turki Usmani
A.    Sejarah Berdiri Dinasti Usmani
Kata Usman diambil dari pendiri pertama dinasti ini, yaitu Usman ibn Erthogril ibn  Sulaiman Syah dari suku Qayigh Ogbus Turki.[1] Kerajaan ini berasal dari suku pengembara yang bermukim di wilayah Asia Tengah. Mereka tergolong suku Kayi, salah satu suku di Turki Barat yang terancam gelombang keganasan serbuan bangsa Mongol.[2] Usmani adalah dinasti besar dan lama di dunia. Sejak tahun 1300 hingga tahun 1922 M kerajaan ini telah diperintah oleh sebanyak 36 sultan. Usman adalah sultan pertama, kemudian diikuti sultan lainnya dengan berdasarkan pada hubungan darah dan garis keturunan bapak.[3]
Dinasti Usmani mempertahankan etos ideal lama mereka, melihat diri mereka sebagai awak perbatasan, berdedikasi untuk melakukan jihad melawan musuh-musuh Islam. Kebanyakan penduduk Usmani bangga menjadi bagian dari negara Syariat. Al –Qur’an mengajarkan bahwa umat yang hidup menurut hukum Allah akan makmur.[4]
Kerajaan Usmani menerima banyak pengaruh dari luar sistem monarki absolut yang diterapkannya berasal dari Persia. Kebiasaan melakukan perang merupakan pengaruh Asia Tengah. Konsep pemerintahannya berasal dari Romawi Timur. Huruf, ilmu pengetahuan, dan agamanya berasal dari Arab. Dapat dikatakan bahwa pengaruh terbesar yang diterimanya berasal dari Arab.
Hubungan antara Islam dengan kerajaan Usmani mungkin tidak sepenuhnya disadari oleh orang dewasa ini. Bendera kerajaan Usmani bergambar bulan sabit dan bintang. Banyak negara muslim lainnya menggunakan bendera bergambar itu. Kerajaan Usmani bersifat eklektik yaitu memungkinkan terciptanya sistem kenaikan pangkat atau status yang didasari pada kemampuan, terlepas dari latar belakang kasta atau kelas sosial seseorang. Bilamana seseorang telah menjadi Muslim, terlepas apakah mereka orang Arab, Slav, Armenia, atau orang Turki maka ia berhak untuk menduduki jabatan tinggi di wilayah kerajaan, kecuali jabatan sultan yang merupakan satu-satunya jabatan yang ditentukan berdasarkan hubungan darah. Dengan demikian, faktor hubungan keluarga, keturunan, dan kebangsawanan tidaklah menentukan dalam banyak jabatan kerajaan.  Pusat pemerintahan kerajaan Usmani adalah istana Topkali di Istanbul. Selama 400 tahun istana Topkali menjadi pusat kekuasaan Usmani dan dewasa ini dipromosikan sebagai “museum terbesar dan terkaya di dunia”. Istana ini terletak di atas tanah seluas 14 hektar dan menghadap ke tiga lautan. [5]
B.     Sultan Dinasti Usmani
Dinasti Usmani berkuasa kurang lebih selama tujuh abad. Adapun sultan-sultanya adalah sebagai berikut :[6]
No
Nama
Lahir-Meninggal
Masa Pemerintahan
1
Usman I
1258-1323
1300-1326
2
Orkhan
1288-1359
1326-1359
3
Murad I
1326- Juni 1389
1359-1389
4
Bayazid I
1360- 8 Maret 1403
1389-1403
5
Muhammad I
1379- 26 Mei 1421
1402-1421
6
Murad II
1403- 3 Februari 1451
1421-1451
7
Muhammad II
1432- 3 Mei 1481
1451-1481
8
Bayazid II
14447- 26 Mei 1512
1481-1512
9
Salim I
1466- 22 September 1520
1512-1520
10
Sulaiman I
1494- 5 September 1566
1520-1566
11
Salim II
1524- 13 Desember 1574
1566-1574
12
Murad III
1546- 14 Januari 1595
1574-1595
13
Muhammad III
1566- 22 Desember 1617
1595-1603
14
Ahamd I
1590- 22 November 1617
1603-1617
15
Musthafa I
1592- 20 Januari 1639
1617-1618
16
Usman II
1604- 20 Mei 1622
1618-1622
17
Musthafa II
1592- 20 Januari 1639
1622-1623
18
Murad IV
1612- 9 Februari 1640
1623- 1640
19
Ibrahim
1615- 18 Agustus 1648
1640-1648
20
Muhammad IV
1642- 6 Januari 1693
1648-1687
21
Sulaiman II
1642- 23 Juni 1691
1687-1691
22
Ahamad II
1642- 8 Februari 1693
1691-1695
23
Musthafa III
1664- 29 Desember 1703
1695-1703
24
Ahmad III
1673- Juni 1937
1703-1730
25
Mahmud I
1696- 16 Desember 1754
1730-1754
26
Usman III
1699- 30 Oktober 1757
1754-1757
27
Musthafa IV
1717- 21 Januari 1774
1757-1773
28
Abdul Hamid I
1725- 7 April 1789
1773-1789
29
Salim III
1761- 29 Juli 1808
1789-1807
30
Musthafa V
1774- 16 November 1808
1807-1808
31
Mahmud II
1785- 1 Juli 1839
1808-1839
32
Abdul Majid
1823- 24 Juni 1861
1839-1861
33
Abdul Aziz
1830- 4 Juni 1876
1861-1876
34
Abdul Hamid II
182- 10 Februari 1918
1876-1909
35
Muhammad V
1844- 2 Juli 1918
1909-1918
36
Muhammad VI
1861- 15 Mei 1926
1918-1923
Tabel. 1
Para Sultan Dinasti Usmani
C.    Perkembangan dan Kemajuan Dinasti Usmani
Perkembangan wilayah Kerajaan Turki Usmani yang luas berlangsung dengan cepat, yang diikuti pencapaian kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan lain yang cukup penting, diantaranya sebagai berikut :
1.      Bidang militer.
Terbentuk sebuah kesatuan militer yang disebut janissari.
2.      Bidang pemerintahan.
Sistem pemerintahan kerajaan Mughal didasarkan kepada sistem feodal.
3.      Bidang agama dan budaya.
Kebudayaan Turki merupakan perpaduan antara kebudayaan Persia, Bizantium dan Arab. Dari kebudayaan Persia mereka banyak menerima ajaran-ajaran tentang etika dan tata krama dalam kehidupan istana. Organisasi pemerintahan dan prinsip- prinsip kemiliteran mereka dapatkan dari kebudayaan Bizentium. Sedangkan dari kebudayaan Arab, mereka dapatkan ajaran tentang prinsip ekonomi, kemasyarakatan dan ilmu pengetahuan.
4.      Bidang intelektual.
a.       Terdapat tiga buah surat kabar yang muncul pada saat ini, yaitu berita harian Takvini Veka (1831 M), Jurnal Tasviri Efkyar (1862 M) dan Terjumani abval (1860 M).
b.      Dalam bidang pendidikan, dinasti Usmani melakukan pengorganisasian sebuah sistem pendidikan madrasah yang tersebar luas.
5.      Sastra dan bahasa.
Pada masa ini muncul sastrawan- sastrawan dengan hasil karya- karyanya. Diantaranya Ibrahim Shinasi karyanya adalah the Poets Wedding (komedi).





6.      Seni dan arsitektur.
Bidang- bidang seni dan arsitektur yang muncul pada masa dinasti Usmani sangatlah beragam, seperti bentuk kubah masjid, seni bangunan, kaligrafi, desaign interior, painting dan cover buku.[7]

D.    Faktor- Faktor Penyebab Keruntuhan Dinasti Usmani
Ragam faktor keruntuhan kerajaan Turki Usmani dibedakan menjadi dua, yakni faktor internal dan eksternal.
1.      Faktor- faktor internal
Berbagai faktor internal yang menyebabkan keruntuhan kerajaan Turki Usmani ialah sebagai berikut:
a.       Buruknya sistem pemerintahan
b.      Hilangnya keadilan
c.       Banyaknya korupsi
d.      Meningkatnya kriminalitas
e.       Heterogenitas penduduk dan agama
f.       Kehidupan istimewa yang bermegah- megahan
g.      Merosotnya perekonomian negara akibat peperangan

2.      Faktor- faktor eksternal
a.       Munculnya gerakan nasionalisme
b.      Terjadinya kemajuan teknologi di wilayah Barat, khususnya dalam bidang kesenjataan.[8]





E.     Akhir Dinasti Turki dan Transformasi ke Republik
Bermula dari perlawanan terhadap campur tangan asing yang dipimpin Musthafa Kemal, aksi perjuangan berubah menjadi penentangan terhadap kekuasaan khalifah. Moment kehancuran khilafah islamiyyah sendiri terjadi saat rakyat Turki melalui wakil-wakilnya mengeluarkan Piagam Nasional. Sejak itu, Turki menjadi sebuah negara tersendiri, terpisah dari wilayah-wilayah yang dulu merupakan kesatuan dinasti Usmani.
Musthafa Kemal menjelaskan pada anggota Majelis Nasional Agung, bahwa pemerintah nasional didasarkan pada prinsip pokok populisme (kerakyatan), yang berarti bahwa kedaulatan dan semua kekuatan administrasi harus langsung diberikan kepada rakyat.
Pada 1923, disepakatilah berdirinya negara Turki dengan batas-batas wilayah seperti ini. Laut Hitam diutara, Irak, Suriah dan Laut Tengah di selatan, laut Aegea di barat dan Iran serta Rusia di timur. Negara republik dengan ibukota Angkara itu, pertama kali dipimpin oleh Musthafa Kemal. Ia melakukan modernisasi besar-besaran dengan berkiblat ke Barat. Ia mengganti penggunaan huruf Arab menjadi huruf Latin, poligami dilarang dan wanita diberi kebebasan yang sama dengan pria. Kemalpun memperoleh gelar Bapak Bangsa Turki (Attaturk) sehingga dikenal sebagai Kemal Attaturk.[9]









2.      Dinasti Shafawi Persia
A.    Sejarah Berdirinya Dinasti Shafawi
Kata Safawi berasal dari kata “syafi”, suatu gelar bagi nenek moyang Sultan Shafawi yaitu Shafi al- Din Ishaq al- Ardabili, pendiri dan pemimpin thariqah shafawiyah.
Pada mulanya di Persia tepatnya di Ardabil, sebuah kota di Azerbeijan, terdapat sebuah gerakan thariqah yaitu orang-orang yang menghususkan pada pembinaan dan pengarahan spiritual kagamaan. [10]
Pada umumnya para sarjana sepakat bahwa dinasti Shafawi merupakan peletak dasar bagi negara Persia Modern (Iran). Alasan untuk hal ini misalnya dikemukakan oleh Bernard Lewis bahwa Shafawi telah berhasil memperbaiki hukum, membuat pemerintahan yang stabil dan teratur serta memerintah di hampir seluruh Iran oleh dinasti yang didirikan orang asli Persia sendiri. Alasan yang disebut sekarang ini, menjadi pertanda bahwa Shafawi mampu mengembalikan kedaulatan rakyat Persia atas negerinya sendiri. Ini merupakan yang pertama kali semenjak penguasaan orang Arab atas Persia delapan setengah abad sebelumnya.[11]
Meski demikian, ada pula yang menyangsikan kesepakatan umum diatas. Kesangsian itu didasarkan pada masalah kebangsaan Persia. Sarjana yang mengemukakan hal itu adalah Hamka. Menurutnya, sebelum dinasti Shafawi berdiri, banyak bangsa lain memasuki Persia, terutama setelah kerajaan Iran keturunan Sasanid jatuh ketangan kaum muslim.





B.     Sultan Dinasti Shafawi
Berikut adalah nama sultan yang pernah berkuasa pada masa dinasti Shafawi.[12]
No
Nama
Masa Pemerintahan
1
Ismail I
(1501-1524 M)
2
Tahmasp I
(1524-1576 M)
3
Ismail II
(1576-1577 M)
4
Muhammad Khudabanda
(1577-1587 M)
5
Abbas I
(1587-1628 M)
6
Shafi  Mirza
(1628-1642 M)
7
Abbas II
(1642-1667 M)
8
Sulaiman
(1667-1694 M)
9
Husein
(1694-1722 M)
10
Tahmasp II
(1722-1732 M)
11
Abbas III
(1732-1736 M)
Tabel. 2
Para Sultan Dinasti Shafawi

C.    Perkembangan dan Kemajuan Dinasti Shafawi
Kemajuan yang dicapai dinasti Shafawi tidak hanya terbatas di bidang politik. Tetapi di bidang yang lain, kesultanan ini juga mengalami berbagai kemajuan. Kemajuan-kemajuan itu adalah antara lain sebagai berikut.
1.      Bidang sosial.
Mengadakan pembenahan administrasi dengan cara pengaturan pengontrolan dari pusat.
2.      Bidang agama.
Abbas I menerapkan paham toleransi atau lapang dada yang sangat besar.
3.      Bidang ekonomi.
Salah satu jalur dagang laut antara negara Timur dan Barat yang biasa diperebutkan oleh Belanda, Inggris dan Prancis, akhirnya menjadi milik kerajaan Shafawi.
4.      Bidang ilmu pengetahuan.
Tradisi keilmuan terus berkembang.
5.      Bidang seni.
Bidang seni, kemajuan terlihat dari gaya arsitektur bangunan. Seperti Masjid Syah yang dibangun apada tahun 1603 M.[13]

D.    Keruntuhan Dinasti Shafawi
Ada beberapa penyebab kemunduran dan kehancuran dinasti Shafawi, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.         Adanya konflik yang berkepanjangan dengan kerajaan Turki Usmani. Berdirinya Shafawi bermadzab syi’ah menjadi ancaman bagi kerajaan Turki Usmani.
2.         Terjadinya degradasi moral yang melanda sebagian pemimpin kerajaan Shafawi.
3.         Pasukan Ghulam (budak-budak) yang dibentuk oleh Abbas I tidak mempunyai semangat perjuangan yang tinggi.
4.         Seringkali terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana.
5.         Lemahnya para sultan.
6.         Lemahnya ekonomi.[14]
Kehancuran Shafawi juga disebabkan oleh sejumlah perubahan yang luar biasa dalam hal hubungan negara dan agama. Semula, Shafawi merupakan sebuah gerakan. Namun, setelah berkuasa, Shafawi justru menekan bentuk millenarian Islam sufi sembari cenderung kepada pembentukan lembaga ulama negara.
Krisis abad ke-18 mengarah kepada berakhirnya sejarah Iran pramodern. Bahkan hampir diseluruh wilayah muslim, periode pramodern berakhir dengan intervensi, penaklukan bangsa Eropa, serta pembentukan beberapa rezim kolonial. Dengan demikian, konsolidasi ekonomi dan pengaruh politik bangsa Eropa diawali dengan imperium Shafawi dan liberalisasi ulama.
Semua perkembangan yang terjadi pada masa dinasti Shafawi di Persia masih tetap menggema dalam dinamika politik dan kehidupan masyarakat hingga kini. Persia- Iran- menjadi negara syi’ah terbesar dan terkuat di dunia, serta merupakan sumber dogma syi’ah. Dapat dikatakan bahwa masa pemerintahan Shafawi menentukan corak dan warna Iran masa kini.
Pernyataan seorang cendekiawan agamis yang menggarisbawahi perlunya diadakan pemahaman ulang terhadap Syi’ah memang memiliki alasan sejarah. Cendekiawa itu berkata seperti ini.
“Menurut pandangan keyakinan syi’ah, hanya para imam atau orang yang bertindak atas nama mereka yang merupakan pemegang kekuasaan yang sah. Semua sistem pemerintahan yang berbeda dengan pandangan itu tidak sah. Pandangan tersebut telah ditegakkan berulangkali pada masa lalu melalui gerakan syi’ah yang menentang berbagai pemerintahan. Kadangkala keadaan memungkinkan untuk melawan, pada kesempatan lain keadaan tidak menghendaki. Jika rakyat Iran dewasa ini bangkit melawan syi’ah, maka mereka sebenarnya melakukan hal itu sebagai suatu kewajiban agama Islam”.
Ucapan itu adalah ucapan Imam Khumaini. Lawan khumaini, keluarga Pahlevi, secara sadar menerapkan simbolisme pra-Islam, termasuk institusi “syi’ah”. Dalam satu segi dapat dikatakan bahwa kemenangan akhir Khumaini atas syi’ah merupakan puncak keberhasilan gerakan para ulama Shafawi dalam mencapai kekuasaan.[15]

3.      Dinasti Mughal India
A.    Asal- Usul Kesultanan Mughal
Kesulatanan Mughal merupakan kelanjutan dari kesultanan Delhi. Sebab ia menandai puncak perjuangan panjang untuk membentuk sebuah imperium India Muslim yang didasarkan pada sebuah sintesa antara warisan bangsa Persia dan bangsa India.
Kesultanan Mughal ini didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur (1526-1530 M). Secara geneologis Babur merupakan cucu Timur Lenk dari pihak ayah dan keturunan Jenghi Khan dari pihak ibu. Ayahnya Umar Mirza, penguasa Ferghana. Babur mewarisi daerah Ferghana dari orang tuanya ketika ia masih berusia 11 tahun. Ia berambisi dan bertekad akan menaklukkan Samarkand yang menjadi kota penting di Asia Tengah pada masa itu. Pada mulanya ia mengalami kekalahan tetapi karena mendapat bantuan dari dinasti Shafawi, Ismail akhirnya berhasil menaklukkan Samarkand pada tahun 1494 M.
            Kesultanan Mughal merupakan warisan kebesaran Timur Lenk, dan bukan warisan keturunan India yang asli. Meskipun demikan, kesultanan Mughal telah memberi warna tersendiri bagi peradaban orang-orang India yang sebelumnya identik dengan agama Hindu.
            Babur bukanlah orang India. Syed Mahmudannasir menulis, “Dia bukan orang Mughal, didalam memoarnya dia menyebut dirinya orang Turki. Akan tetapi, cukup aneh. Kesultanan yang didirikannya dikenal sebagai kesultanan Mughal. Sebenarnya Mughal menjadi sebutan umum bagi para petualang yang suka perang dari Persia di Asia Tengah, dan meskipun Timur Lenk dan semua pengikutnya menyumpahi nama itu sebagai nama musuhnya yang paling sengit. Nasib merekalah untuk dicap dengan nama itu”.




            Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa faktor berdirinya Kerajaan Mughal adalah:
  1. Ambisi dan karakter Babur sebagai pewaris keperkasaan ras Mongolia
  2. Sebagai jawaban atas krisis yang tengah melanda India.[16]
B.     Raja- raja Mughal
Selama masa pemerintahannya Kerajaan Mughal dipimpin oleh beberapa orang raja. Raja-raja yang sempat memerintah adalah:
1.      Zahiruddin Muhammad Babur (1526-1530) adalah : Raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Mughal. Masa kepemimpinannnya digunakan untuk membangun fondasi pemerintahan. Awal kepemimpinannya, Babur masih menghadapi ancaman pihak-pihak musuh, utamanya dari kalangan Hindu yang tidak menyukai berdirinya Kerajaan Mughal.
2.      Tahta kesultanan Mughal diteruskan oleh anaknya yang bernama Nashiruddin Humayun (1530- 1556  M).
3.      Akbar Khan (1556- 1605 M). Gelarnya adalah Sultan Abdul Fath Jalaluddin Akbar Khan.
4.      Jahangir (1605- 1627 M), adalah putra Akbar. Masa pemerintahannya kurang lebih 23 tahun.
5.      Syah Jehan (1628- 1658 M).

C.    Kemajuan yang Dicapai Kesultanan Mughal
1.      Bidang politik dan militer.
Sistem yang menonjol adalah politik Sulh-e-Kul atau toleransi universal.
2.      Bidang ekonomi.
Memajukan pertanian terutama untuk tanaman padi, kacang, tebu, rempah-rempah, tembakau dan kapas.
3.      Bidang seni dan arsitektur.
Ciri yang menonjol dari arsitektur Mughal adalah pemakaian ukiran dan marmer yang timbul dengan kombinasi warna-warni. Bangunan yang menimbulkan ciri ini antara lain : Benteng Merah, istana- istana, makam kerajaan dan yang paling mengagumkan adalah Taj Mahal di Aghra.
4.      Bidang agama.
Kesultanan Mughal mencapai suatu fase yang menarik, dimana pada masa itu Akbar memproklamasikan sebuah cara baru dalam beragama, yaitu konsep Din-i-Ilahi.[17]

D.    Sebab- sebab Kemunduran dan Keruntuhan Kesultanan Mughal
Raja-raja pengganti Aurangzeb merupakan penguasa yang lemah sehingga tidak mampu mengatasi kemerosotan politik dalam negeri.Tanda-tanda kemunduran sudah terlihat dengan indikator sebagaimana berikut :
1.      Internal : Tampilnya sejumlah penguasa lemah, terjadinya perebutan kekuasaan, dan lemahnya kontrol pemerintahan pusat.
2.      Eksternal : Terjadinya pemberontakan di mana-mana, seperti pemberontakan kaum Sikh di Utara, gerakan separatis Hindu di India tengah, kaum muslimin sendiri di Timur, dan yang terberat adalah invasi Inggris melalui EIC.
Dominasi Inggris diduga sebagai faktor pendorong kehancuran Mughal. Pada waktu itu EIC mengalami kerugian. Untuk menutupi kerugian dan sekaligus memenuhi kebutuhan istana, EIC mengadakan pungutan yang tinggi terhadap rakyat secara ketat dan cenderung kasar. Karena rakyat merasa ditekan, maka mereka, baik yang beragama Hindu maupun Islam bangkit mengadakan pemberontakan.
Mereka meminta kepada Bahadur Syah untuk menjadi lambang perlawanan itu dalam rangka mengembalikan kekuasaan kerajaan. Dengan demikian, terjadilah perlawanan rakyat India terhadap kekuatan Inggris pada bulan Mei 1857 M. Perlawanan mereka dapat dipatahkan dengan mudah. Inggris kemudian menjatuhkan hukuman yang kejam terhadap para pemberontak. Mereka diusir dari kota Delhi, rumah-rumah ibadah banyak yang dihancurkan, dan Bahadur Syah, raja Mughal terakhir, diusir dari istana (1858 M). Dengan demikian berakhirlah sejarah kekuasaan dinasti Mughal di daratan India.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekuasaan dinasti Mughal mundur dan membawa kepada kehancurannya pada tahun 1858 M yaitu:
  1. Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritim Mughal.
  2. Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elite politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
  3. Pendekatan Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antaragama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya.
4.      Semua pewaris tahta kerajaan pada masa terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.[18]










IV.        KESIMPULAN
Dari uraian singkat tentang masa tiga kerajaan besar Islam (Usmani, Mughal dan Shafawi) di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, tiga kerajaan tersebut merupakan kerajaan Islam terbesar, karena dalam waktu kurun yang panjang setelah Bani Abbas mengalami keruntuhan dengan ditandainya jatuhnya kota Baghdad ke tangan bangsa Mongol pada tahun 1258 M, setelah itu umat islam mengalami kemunduran. Umat islam bangkit kembali dengan adanya kerajaan Usmani yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara Cina, kemudian kerajaan Shafawi di Persia dan kerajaan Mughal di India.
Akan tetapi, dalam perjalanannya ketiga kerajaan tersebut mengalami kemunduran. Hal yang paling urgen penyebab kemunduran ketiga kerajaan tersebut antara lain adalah: adanya dekadensi moral yang melanda para pemimpin; semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan, adanya tradisi korupsi, perebutan kekuasaan, dan terjadinya stagnasi militer.

















V.           DAFTAR PUSTAKA

Aizid Rizem, Sejarah Peradaban Islam Terlengkap, Yogyakarta: Diva Press, 2015.
Amstrong Karen, Sejarah Islam, Bandung: Mizan, 2014.
Lubis Amany, Hermawati & Nurhasan, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Pusat Studi Wanita, 2005.
S. Ahmed Akbar, Discovering Islam, Jakarta: Erlangga, 1990.
Syaefudin Machfud, Dinamika Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013.




































[1] Machfud Syaefudin, Dinamika Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013, hlm. 184.
[2] Rizem Aizid, Sejerah Peradaban Islam Terlengkap, Yogyakarta: Diva Press, 2015, hlm.337.
[3] Akbar S. Ahmed, Discovering Islam, Jakarta: Erlangga, 1990, hlm71.
[4] Karen Amstrong,  Sejarah Islam, Bandung: Mizan, 2014, hlm.194.
[5] Akbar S. Ahmed, Discovering Islam, Jakarta:Erlangga, 1990, hlm. 72-73.
[6] Machfud Syaefudin, Dinamika Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013, hlm. 185-186.
[7] Machfud Syaefudin, Dinamika Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013. Hlm.191-197.
[8] Rizem Aizid, Sejarah Peradaban Islam Terlengkap, Yogyakarta: Diva Press, 2015, hlm.344-345.
[9] Machfud Syaefudin, Dinamika Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013, hlm. 207-208.
[10] Machfud Syaefudin, Dinamika Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013, hlm. 214.
[11] Amany Lubis, Hermawati & Nurhasan, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Pusat Studi wanita, 2005, hlm. 239.
[12] Machfud Syaefudin, Dinamika Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013, hlm. 219.

[13] Rizem Aizid, Sejarah Peradaban Islam Terlengkap, Yogyakarta: Diva Press, 2015, hlm. 329.332.
[14] Rizem Aizid, Sejarah Peradaban Islam Terlengkap, Yogyakarta: Diva Press, 2015, hlm.334-335.

[15] Akbar S. Ahmed, Discovering Islam, Jakarta:Erlangga, 1990, hlm. 79.
[16] Machfud Syaefudin, Dinamika Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013, hlm. 229-234.
[17] Machfud Syaefudin, Dinamika Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013, hlm. 237-239..


[18] Machfud Syaefudin, Dinamika Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013, hlm. 240-241.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar