I.
PENDAHULUAN
Kesempurnaan ajaran Islam telah
berhasil membuat perubahan besar bagi peradaban manusia. Sejarah mencatat,
sejak ajaran yang dibawa nabi Muhammad tersebut disampaikan kepada umat
manusia, mampu membuat kemajuan disemua bidang kehidupan, bukan hanya bidang
duniawi semata tetapi juga bidang sosial budaya, mental, dan spiritual. Bangsa
Arab, tempat diturunkannya ajaran Islam, sebelumnya dikenal sebagai bangsa yang
diliputi zaman jahiliyah, setelah Islam datang mereka mampu tampil menjadi
bangsa yang berperadaban dan meraih kehidupan yang maju serta menjadi pelopor
diantara bangsa-bangsa yang lain. Madinah sebagai awal terbentuknya masyarakat
yang menerapkan kehidupan yang dijiwai dengan ajaran Islam, dipimpin oleh
Rasulullah, dilanjutkan oleh Khulafa al-Rasyidin, Bani Umayah, Bani Abasiyah
hingga berbagai wilayah dipermukaan bumi, termasuk dinasti Turki Usmani,
dinasti Safawi dan dinasti Mugal.
Makalah ini akan membahas tentang sejarah
peradaban Islam tiga kerajaan besar yaitu pada masa dinasti Turki Usmani,
dinasti Safawi dan dinasti Mugal. Dinasti Turki Usmani (1300-1922 M) berpusat
di Istanbul, dinasti Shafawi (1501-1732 M) berpusat di Persia dan dinasti Mughal
berpusat di India.
II.
PERMASALAHAN
1.
Bagaimana
sejarah peradaban Islam pada masa dinasti Turki Usmani hingga Mustafa Kemal?
2.
Bagaimana
sejarah peradaban Islam pada masa dinasti Shafawi Persia hingga Khumaini?
3.
Bagaimana
sejarah peradaban Islam pada masa dinasti Mughal India hingga terbentuknya
Bangladesh?
III.
PEMBAHASAN
1.
Dinasti Turki Usmani
A.
Sejarah Berdiri Dinasti Usmani
Kata Usman
diambil dari pendiri pertama dinasti ini, yaitu Usman ibn Erthogril ibn Sulaiman Syah dari suku Qayigh Ogbus Turki.[1]
Kerajaan ini berasal dari suku pengembara yang bermukim di wilayah Asia Tengah.
Mereka tergolong suku Kayi, salah satu suku di Turki Barat yang terancam
gelombang keganasan serbuan bangsa Mongol.[2]
Usmani adalah dinasti besar dan lama di dunia. Sejak tahun 1300 hingga tahun
1922 M kerajaan ini telah diperintah oleh sebanyak 36 sultan. Usman adalah
sultan pertama, kemudian diikuti sultan lainnya dengan berdasarkan pada
hubungan darah dan garis keturunan bapak.[3]
Dinasti Usmani
mempertahankan etos ideal lama mereka, melihat diri mereka sebagai awak
perbatasan, berdedikasi untuk melakukan jihad melawan musuh-musuh Islam.
Kebanyakan penduduk Usmani bangga menjadi bagian dari negara Syariat. Al
–Qur’an mengajarkan bahwa umat yang hidup menurut hukum Allah akan makmur.[4]
Kerajaan Usmani
menerima banyak pengaruh dari luar sistem monarki absolut yang diterapkannya
berasal dari Persia. Kebiasaan melakukan perang merupakan pengaruh Asia Tengah.
Konsep pemerintahannya berasal dari Romawi Timur. Huruf, ilmu pengetahuan, dan
agamanya berasal dari Arab. Dapat dikatakan bahwa pengaruh terbesar yang
diterimanya berasal dari Arab.
Hubungan antara
Islam dengan kerajaan Usmani mungkin tidak sepenuhnya disadari oleh orang
dewasa ini. Bendera kerajaan Usmani bergambar bulan sabit dan bintang. Banyak
negara muslim lainnya menggunakan bendera bergambar itu. Kerajaan Usmani
bersifat eklektik yaitu memungkinkan terciptanya sistem kenaikan pangkat atau
status yang didasari pada kemampuan, terlepas dari latar belakang kasta atau
kelas sosial seseorang. Bilamana seseorang telah menjadi Muslim, terlepas
apakah mereka orang Arab, Slav, Armenia, atau orang Turki maka ia berhak untuk
menduduki jabatan tinggi di wilayah kerajaan, kecuali jabatan sultan yang
merupakan satu-satunya jabatan yang ditentukan berdasarkan hubungan darah. Dengan
demikian, faktor hubungan keluarga, keturunan, dan kebangsawanan tidaklah
menentukan dalam banyak jabatan kerajaan. Pusat pemerintahan kerajaan Usmani adalah
istana Topkali di Istanbul. Selama 400 tahun istana Topkali menjadi pusat
kekuasaan Usmani dan dewasa ini dipromosikan sebagai “museum terbesar dan
terkaya di dunia”. Istana ini terletak di atas tanah seluas 14 hektar dan
menghadap ke tiga lautan. [5]
B.
Sultan Dinasti Usmani
Dinasti Usmani
berkuasa kurang lebih selama tujuh abad. Adapun sultan-sultanya adalah sebagai
berikut :[6]
|
No
|
Nama
|
Lahir-Meninggal
|
Masa Pemerintahan
|
|
1
|
Usman I
|
1258-1323
|
1300-1326
|
|
2
|
Orkhan
|
1288-1359
|
1326-1359
|
|
3
|
Murad I
|
1326- Juni 1389
|
1359-1389
|
|
4
|
Bayazid I
|
1360- 8 Maret 1403
|
1389-1403
|
|
5
|
Muhammad I
|
1379- 26 Mei 1421
|
1402-1421
|
|
6
|
Murad II
|
1403- 3 Februari 1451
|
1421-1451
|
|
7
|
Muhammad II
|
1432- 3 Mei 1481
|
1451-1481
|
|
8
|
Bayazid II
|
14447- 26 Mei 1512
|
1481-1512
|
|
9
|
Salim I
|
1466- 22 September 1520
|
1512-1520
|
|
10
|
Sulaiman I
|
1494- 5 September 1566
|
1520-1566
|
|
11
|
Salim II
|
1524- 13 Desember 1574
|
1566-1574
|
|
12
|
Murad III
|
1546- 14 Januari 1595
|
1574-1595
|
|
13
|
Muhammad III
|
1566- 22 Desember 1617
|
1595-1603
|
|
14
|
Ahamd I
|
1590- 22 November 1617
|
1603-1617
|
|
15
|
Musthafa I
|
1592- 20 Januari 1639
|
1617-1618
|
|
16
|
Usman II
|
1604- 20 Mei 1622
|
1618-1622
|
|
17
|
Musthafa II
|
1592- 20 Januari 1639
|
1622-1623
|
|
18
|
Murad IV
|
1612- 9 Februari 1640
|
1623- 1640
|
|
19
|
Ibrahim
|
1615- 18 Agustus 1648
|
1640-1648
|
|
20
|
Muhammad IV
|
1642- 6 Januari 1693
|
1648-1687
|
|
21
|
Sulaiman II
|
1642- 23 Juni 1691
|
1687-1691
|
|
22
|
Ahamad II
|
1642- 8 Februari 1693
|
1691-1695
|
|
23
|
Musthafa III
|
1664- 29 Desember 1703
|
1695-1703
|
|
24
|
Ahmad III
|
1673- Juni 1937
|
1703-1730
|
|
25
|
Mahmud I
|
1696- 16 Desember 1754
|
1730-1754
|
|
26
|
Usman III
|
1699- 30 Oktober 1757
|
1754-1757
|
|
27
|
Musthafa IV
|
1717- 21 Januari 1774
|
1757-1773
|
|
28
|
Abdul Hamid I
|
1725- 7 April 1789
|
1773-1789
|
|
29
|
Salim III
|
1761- 29 Juli 1808
|
1789-1807
|
|
30
|
Musthafa V
|
1774- 16 November 1808
|
1807-1808
|
|
31
|
Mahmud II
|
1785- 1 Juli 1839
|
1808-1839
|
|
32
|
Abdul Majid
|
1823- 24 Juni 1861
|
1839-1861
|
|
33
|
Abdul Aziz
|
1830- 4 Juni 1876
|
1861-1876
|
|
34
|
Abdul Hamid II
|
182- 10 Februari 1918
|
1876-1909
|
|
35
|
Muhammad V
|
1844- 2 Juli 1918
|
1909-1918
|
|
36
|
Muhammad VI
|
1861- 15 Mei 1926
|
1918-1923
|
Tabel. 1
Para Sultan Dinasti Usmani
C.
Perkembangan dan Kemajuan Dinasti Usmani
Perkembangan
wilayah Kerajaan Turki Usmani yang luas berlangsung dengan cepat, yang diikuti
pencapaian kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan lain yang cukup
penting, diantaranya sebagai berikut :
1.
Bidang
militer.
Terbentuk
sebuah kesatuan militer yang disebut janissari.
2.
Bidang
pemerintahan.
Sistem
pemerintahan kerajaan Mughal didasarkan kepada sistem feodal.
3.
Bidang
agama dan budaya.
Kebudayaan
Turki merupakan perpaduan antara kebudayaan Persia, Bizantium dan Arab. Dari
kebudayaan Persia mereka banyak menerima ajaran-ajaran tentang etika dan tata
krama dalam kehidupan istana. Organisasi pemerintahan dan prinsip- prinsip
kemiliteran mereka dapatkan dari kebudayaan Bizentium. Sedangkan dari
kebudayaan Arab, mereka dapatkan ajaran tentang prinsip ekonomi, kemasyarakatan
dan ilmu pengetahuan.
4.
Bidang
intelektual.
a.
Terdapat
tiga buah surat kabar yang muncul pada saat ini, yaitu berita harian Takvini
Veka (1831 M), Jurnal Tasviri Efkyar (1862 M) dan Terjumani abval
(1860 M).
b.
Dalam
bidang pendidikan, dinasti Usmani melakukan pengorganisasian sebuah sistem
pendidikan madrasah yang tersebar luas.
5.
Sastra
dan bahasa.
Pada
masa ini muncul sastrawan- sastrawan dengan hasil karya- karyanya. Diantaranya
Ibrahim Shinasi karyanya adalah the Poets Wedding (komedi).
6.
Seni
dan arsitektur.
Bidang-
bidang seni dan arsitektur yang muncul pada masa dinasti Usmani sangatlah
beragam, seperti bentuk kubah masjid, seni bangunan, kaligrafi, desaign
interior, painting dan cover buku.[7]
D.
Faktor- Faktor Penyebab Keruntuhan Dinasti Usmani
Ragam faktor
keruntuhan kerajaan Turki Usmani dibedakan menjadi dua, yakni faktor internal
dan eksternal.
1. Faktor- faktor internal
Berbagai faktor
internal yang menyebabkan keruntuhan kerajaan Turki Usmani ialah sebagai
berikut:
a.
Buruknya
sistem pemerintahan
b.
Hilangnya
keadilan
c.
Banyaknya
korupsi
d.
Meningkatnya
kriminalitas
e.
Heterogenitas
penduduk dan agama
f.
Kehidupan
istimewa yang bermegah- megahan
g.
Merosotnya
perekonomian negara akibat peperangan
2. Faktor- faktor eksternal
a.
Munculnya
gerakan nasionalisme
b.
Terjadinya
kemajuan teknologi di wilayah Barat, khususnya dalam bidang kesenjataan.[8]
E.
Akhir Dinasti Turki dan Transformasi ke Republik
Bermula dari
perlawanan terhadap campur tangan asing yang dipimpin Musthafa Kemal, aksi
perjuangan berubah menjadi penentangan terhadap kekuasaan khalifah. Moment
kehancuran khilafah islamiyyah sendiri terjadi saat rakyat Turki melalui
wakil-wakilnya mengeluarkan Piagam Nasional. Sejak itu, Turki menjadi sebuah
negara tersendiri, terpisah dari wilayah-wilayah yang dulu merupakan kesatuan
dinasti Usmani.
Musthafa Kemal
menjelaskan pada anggota Majelis Nasional Agung, bahwa pemerintah nasional
didasarkan pada prinsip pokok populisme (kerakyatan), yang berarti bahwa kedaulatan
dan semua kekuatan administrasi harus langsung diberikan kepada rakyat.
Pada 1923,
disepakatilah berdirinya negara Turki dengan batas-batas wilayah seperti ini.
Laut Hitam diutara, Irak, Suriah dan Laut Tengah di selatan, laut Aegea di
barat dan Iran serta Rusia di timur. Negara republik dengan ibukota Angkara
itu, pertama kali dipimpin oleh Musthafa Kemal. Ia melakukan modernisasi
besar-besaran dengan berkiblat ke Barat. Ia mengganti penggunaan huruf Arab
menjadi huruf Latin, poligami dilarang dan wanita diberi kebebasan yang sama
dengan pria. Kemalpun memperoleh gelar Bapak Bangsa Turki (Attaturk) sehingga
dikenal sebagai Kemal Attaturk.[9]
2.
Dinasti Shafawi Persia
A.
Sejarah Berdirinya Dinasti Shafawi
Kata Safawi
berasal dari kata “syafi”, suatu gelar bagi nenek moyang Sultan Shafawi yaitu
Shafi al- Din Ishaq al- Ardabili, pendiri dan pemimpin thariqah shafawiyah.
Pada mulanya di
Persia tepatnya di Ardabil, sebuah kota di Azerbeijan, terdapat sebuah gerakan
thariqah yaitu orang-orang yang menghususkan pada pembinaan dan pengarahan
spiritual kagamaan. [10]
Pada umumnya
para sarjana sepakat bahwa dinasti Shafawi merupakan peletak dasar bagi negara
Persia Modern (Iran). Alasan untuk hal ini misalnya dikemukakan oleh Bernard
Lewis bahwa Shafawi telah berhasil memperbaiki hukum, membuat pemerintahan yang
stabil dan teratur serta memerintah di hampir seluruh Iran oleh dinasti yang
didirikan orang asli Persia sendiri. Alasan yang disebut sekarang ini, menjadi
pertanda bahwa Shafawi mampu mengembalikan kedaulatan rakyat Persia atas
negerinya sendiri. Ini merupakan yang pertama kali semenjak penguasaan orang
Arab atas Persia delapan setengah abad sebelumnya.[11]
Meski demikian,
ada pula yang menyangsikan kesepakatan umum diatas. Kesangsian itu didasarkan
pada masalah kebangsaan Persia. Sarjana yang mengemukakan hal itu adalah Hamka.
Menurutnya, sebelum dinasti Shafawi berdiri, banyak bangsa lain memasuki
Persia, terutama setelah kerajaan Iran keturunan Sasanid jatuh ketangan kaum
muslim.
B.
Sultan Dinasti Shafawi
Berikut adalah
nama sultan yang pernah berkuasa pada masa dinasti Shafawi.[12]
|
No
|
Nama
|
Masa Pemerintahan
|
|
1
|
Ismail I
|
(1501-1524 M)
|
|
2
|
Tahmasp I
|
(1524-1576 M)
|
|
3
|
Ismail II
|
(1576-1577 M)
|
|
4
|
Muhammad Khudabanda
|
(1577-1587 M)
|
|
5
|
Abbas I
|
(1587-1628 M)
|
|
6
|
Shafi Mirza
|
(1628-1642 M)
|
|
7
|
Abbas II
|
(1642-1667 M)
|
|
8
|
Sulaiman
|
(1667-1694 M)
|
|
9
|
Husein
|
(1694-1722 M)
|
|
10
|
Tahmasp II
|
(1722-1732 M)
|
|
11
|
Abbas III
|
(1732-1736 M)
|
Tabel. 2
Para Sultan Dinasti Shafawi
C.
Perkembangan dan Kemajuan Dinasti Shafawi
Kemajuan yang
dicapai dinasti Shafawi tidak hanya terbatas di bidang politik. Tetapi di
bidang yang lain, kesultanan ini juga mengalami berbagai kemajuan.
Kemajuan-kemajuan itu adalah antara lain sebagai berikut.
1.
Bidang
sosial.
Mengadakan pembenahan administrasi
dengan cara pengaturan pengontrolan dari pusat.
2.
Bidang
agama.
Abbas I menerapkan paham toleransi
atau lapang dada yang sangat besar.
3.
Bidang
ekonomi.
Salah satu jalur dagang laut antara
negara Timur dan Barat yang biasa diperebutkan oleh Belanda, Inggris dan
Prancis, akhirnya menjadi milik kerajaan Shafawi.
4.
Bidang
ilmu pengetahuan.
Tradisi keilmuan terus berkembang.
5.
Bidang
seni.
Bidang seni, kemajuan terlihat dari
gaya arsitektur bangunan. Seperti Masjid Syah yang dibangun apada tahun 1603 M.[13]
D.
Keruntuhan Dinasti Shafawi
Ada beberapa penyebab
kemunduran dan kehancuran dinasti Shafawi, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.
Adanya
konflik yang berkepanjangan dengan kerajaan Turki Usmani. Berdirinya Shafawi
bermadzab syi’ah menjadi ancaman bagi kerajaan Turki Usmani.
2.
Terjadinya
degradasi moral yang melanda sebagian pemimpin kerajaan Shafawi.
3.
Pasukan
Ghulam (budak-budak) yang dibentuk oleh Abbas I tidak mempunyai semangat
perjuangan yang tinggi.
4.
Seringkali
terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluarga
istana.
5.
Lemahnya
para sultan.
6.
Lemahnya
ekonomi.[14]
Kehancuran
Shafawi juga disebabkan oleh sejumlah perubahan yang luar biasa dalam hal
hubungan negara dan agama. Semula, Shafawi merupakan sebuah gerakan. Namun,
setelah berkuasa, Shafawi justru menekan bentuk millenarian Islam sufi sembari
cenderung kepada pembentukan lembaga ulama negara.
Krisis abad
ke-18 mengarah kepada berakhirnya sejarah Iran pramodern. Bahkan hampir
diseluruh wilayah muslim, periode pramodern berakhir dengan intervensi,
penaklukan bangsa Eropa, serta pembentukan beberapa rezim kolonial. Dengan
demikian, konsolidasi ekonomi dan pengaruh politik bangsa Eropa diawali dengan
imperium Shafawi dan liberalisasi ulama.
Semua
perkembangan yang terjadi pada masa dinasti Shafawi di Persia masih tetap
menggema dalam dinamika politik dan kehidupan masyarakat hingga kini. Persia-
Iran- menjadi negara syi’ah terbesar dan terkuat di dunia, serta merupakan
sumber dogma syi’ah. Dapat dikatakan bahwa masa pemerintahan Shafawi menentukan
corak dan warna Iran masa kini.
Pernyataan
seorang cendekiawan agamis yang menggarisbawahi perlunya diadakan pemahaman
ulang terhadap Syi’ah memang memiliki alasan sejarah. Cendekiawa itu berkata
seperti ini.
“Menurut
pandangan keyakinan syi’ah, hanya para imam atau orang yang bertindak atas nama
mereka yang merupakan pemegang kekuasaan yang sah. Semua sistem pemerintahan
yang berbeda dengan pandangan itu tidak sah. Pandangan tersebut telah
ditegakkan berulangkali pada masa lalu melalui gerakan syi’ah yang menentang
berbagai pemerintahan. Kadangkala keadaan memungkinkan untuk melawan, pada
kesempatan lain keadaan tidak menghendaki. Jika rakyat Iran dewasa ini bangkit
melawan syi’ah, maka mereka sebenarnya melakukan hal itu sebagai suatu
kewajiban agama Islam”.
Ucapan itu adalah
ucapan Imam Khumaini. Lawan khumaini, keluarga Pahlevi, secara sadar menerapkan
simbolisme pra-Islam, termasuk institusi “syi’ah”. Dalam satu segi dapat
dikatakan bahwa kemenangan akhir Khumaini atas syi’ah merupakan puncak
keberhasilan gerakan para ulama Shafawi dalam mencapai kekuasaan.[15]
3.
Dinasti Mughal India
A.
Asal- Usul Kesultanan Mughal
Kesulatanan
Mughal merupakan kelanjutan dari kesultanan Delhi. Sebab ia menandai puncak
perjuangan panjang untuk membentuk sebuah imperium India Muslim yang didasarkan
pada sebuah sintesa antara warisan bangsa Persia dan bangsa India.
Kesultanan
Mughal ini didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur (1526-1530 M). Secara
geneologis Babur merupakan cucu Timur Lenk dari pihak ayah dan keturunan Jenghi
Khan dari pihak ibu. Ayahnya Umar Mirza, penguasa Ferghana. Babur mewarisi
daerah Ferghana dari orang tuanya ketika ia masih berusia 11 tahun. Ia
berambisi dan bertekad akan menaklukkan Samarkand yang menjadi kota penting di
Asia Tengah pada masa itu. Pada mulanya ia mengalami kekalahan tetapi karena
mendapat bantuan dari dinasti Shafawi, Ismail akhirnya berhasil menaklukkan
Samarkand pada tahun 1494 M.
Kesultanan Mughal
merupakan warisan kebesaran Timur Lenk, dan bukan warisan keturunan India yang
asli. Meskipun demikan, kesultanan Mughal telah memberi warna tersendiri bagi
peradaban orang-orang India yang sebelumnya identik dengan agama Hindu.
Babur bukanlah
orang India. Syed Mahmudannasir menulis, “Dia bukan orang Mughal, didalam
memoarnya dia menyebut dirinya orang Turki. Akan tetapi, cukup aneh. Kesultanan
yang didirikannya dikenal sebagai kesultanan Mughal. Sebenarnya Mughal menjadi
sebutan umum bagi para petualang yang suka perang dari Persia di Asia Tengah,
dan meskipun Timur Lenk dan semua pengikutnya menyumpahi nama itu sebagai nama
musuhnya yang paling sengit. Nasib merekalah untuk dicap dengan nama itu”.
Dari pemaparan
diatas dapat disimpulkan bahwa faktor berdirinya Kerajaan Mughal adalah:
- Ambisi dan karakter Babur sebagai pewaris keperkasaan ras Mongolia
- Sebagai jawaban atas krisis yang tengah melanda India.[16]
B.
Raja- raja Mughal
Selama masa pemerintahannya
Kerajaan Mughal dipimpin oleh beberapa orang raja. Raja-raja yang sempat
memerintah adalah:
1.
Zahiruddin
Muhammad Babur (1526-1530) adalah : Raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan
Mughal. Masa kepemimpinannnya digunakan untuk membangun fondasi pemerintahan.
Awal kepemimpinannya, Babur masih menghadapi ancaman pihak-pihak musuh,
utamanya dari kalangan Hindu yang tidak menyukai berdirinya Kerajaan Mughal.
2.
Tahta kesultanan
Mughal diteruskan oleh anaknya yang bernama Nashiruddin Humayun (1530-
1556 M).
3.
Akbar Khan
(1556- 1605 M). Gelarnya adalah Sultan Abdul Fath Jalaluddin Akbar Khan.
4.
Jahangir (1605-
1627 M), adalah putra Akbar. Masa pemerintahannya kurang lebih 23 tahun.
5.
Syah Jehan
(1628- 1658 M).
C.
Kemajuan
yang Dicapai Kesultanan Mughal
1.
Bidang politik dan militer.
Sistem yang
menonjol adalah politik Sulh-e-Kul atau toleransi universal.
2.
Bidang ekonomi.
Memajukan
pertanian terutama untuk tanaman padi, kacang, tebu, rempah-rempah, tembakau
dan kapas.
3.
Bidang seni dan arsitektur.
Ciri yang
menonjol dari arsitektur Mughal adalah pemakaian ukiran dan marmer yang timbul dengan
kombinasi warna-warni. Bangunan yang menimbulkan ciri ini antara lain : Benteng
Merah, istana- istana, makam kerajaan dan yang paling mengagumkan adalah Taj
Mahal di Aghra.
4.
Bidang agama.
Kesultanan
Mughal mencapai suatu fase yang menarik, dimana pada masa itu Akbar
memproklamasikan sebuah cara baru dalam beragama, yaitu konsep Din-i-Ilahi.[17]
D. Sebab- sebab Kemunduran dan Keruntuhan Kesultanan Mughal
Raja-raja
pengganti Aurangzeb merupakan penguasa yang lemah sehingga tidak mampu
mengatasi kemerosotan politik dalam negeri.Tanda-tanda
kemunduran sudah terlihat dengan indikator sebagaimana berikut :
1.
Internal :
Tampilnya sejumlah penguasa lemah, terjadinya perebutan kekuasaan, dan lemahnya
kontrol pemerintahan pusat.
2.
Eksternal : Terjadinya
pemberontakan di mana-mana, seperti pemberontakan kaum Sikh di Utara, gerakan
separatis Hindu di India tengah, kaum muslimin sendiri di Timur, dan yang
terberat adalah invasi Inggris melalui EIC.
Dominasi
Inggris diduga sebagai faktor pendorong kehancuran Mughal. Pada waktu itu EIC
mengalami kerugian. Untuk menutupi kerugian dan sekaligus memenuhi kebutuhan
istana, EIC mengadakan pungutan yang tinggi terhadap rakyat secara ketat dan
cenderung kasar. Karena rakyat merasa ditekan, maka mereka, baik yang beragama
Hindu maupun Islam bangkit mengadakan pemberontakan.
Mereka
meminta kepada Bahadur Syah untuk menjadi lambang perlawanan itu dalam rangka
mengembalikan kekuasaan kerajaan. Dengan demikian, terjadilah perlawanan rakyat
India terhadap kekuatan Inggris pada bulan Mei 1857 M. Perlawanan mereka dapat
dipatahkan dengan mudah. Inggris kemudian menjatuhkan hukuman yang kejam
terhadap para pemberontak. Mereka diusir dari kota Delhi, rumah-rumah ibadah
banyak yang dihancurkan, dan Bahadur Syah, raja Mughal terakhir, diusir dari
istana (1858 M). Dengan demikian berakhirlah sejarah kekuasaan dinasti Mughal
di daratan India.
Ada beberapa
faktor yang menyebabkan kekuasaan dinasti Mughal mundur dan membawa kepada
kehancurannya pada tahun 1858 M yaitu:
- Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritim Mughal.
- Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elite politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
- Pendekatan Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antaragama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya.
4.
Semua pewaris
tahta kerajaan pada masa terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.[18]
IV.
KESIMPULAN
Dari uraian singkat tentang masa
tiga kerajaan besar Islam (Usmani, Mughal dan Shafawi) di atas, dapat ditarik
kesimpulan bahwa, tiga kerajaan tersebut merupakan kerajaan Islam terbesar,
karena dalam waktu kurun yang panjang setelah Bani Abbas mengalami keruntuhan
dengan ditandainya jatuhnya kota Baghdad ke tangan bangsa Mongol pada tahun
1258 M, setelah itu umat islam mengalami kemunduran. Umat islam bangkit kembali
dengan adanya kerajaan Usmani yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara
Cina, kemudian kerajaan Shafawi di Persia dan kerajaan Mughal di India.
Akan tetapi, dalam perjalanannya
ketiga kerajaan tersebut mengalami kemunduran. Hal yang paling urgen penyebab
kemunduran ketiga kerajaan tersebut antara lain adalah: adanya dekadensi moral
yang melanda para pemimpin; semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir
adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan, adanya tradisi korupsi,
perebutan kekuasaan, dan terjadinya stagnasi militer.
V.
DAFTAR PUSTAKA
Aizid
Rizem, Sejarah Peradaban Islam Terlengkap, Yogyakarta: Diva Press, 2015.
Amstrong
Karen, Sejarah Islam, Bandung: Mizan, 2014.
Lubis
Amany, Hermawati & Nurhasan, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Pusat
Studi Wanita, 2005.
S.
Ahmed Akbar, Discovering Islam, Jakarta: Erlangga, 1990.
Syaefudin
Machfud, Dinamika Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013.
[1] Machfud
Syaefudin, Dinamika Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013,
hlm. 184.
[2] Rizem
Aizid, Sejerah Peradaban Islam Terlengkap, Yogyakarta: Diva Press, 2015,
hlm.337.
[3] Akbar S.
Ahmed, Discovering Islam, Jakarta: Erlangga, 1990, hlm71.
[4] Karen
Amstrong, Sejarah Islam, Bandung:
Mizan, 2014, hlm.194.
[5] Akbar S.
Ahmed, Discovering Islam, Jakarta:Erlangga, 1990, hlm. 72-73.
[6] Machfud
Syaefudin, Dinamika Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013,
hlm. 185-186.
[7] Machfud
Syaefudin, Dinamika Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013.
Hlm.191-197.
[8] Rizem
Aizid, Sejarah Peradaban Islam Terlengkap, Yogyakarta: Diva Press, 2015,
hlm.344-345.
[9] Machfud
Syaefudin, Dinamika Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013,
hlm. 207-208.
[10] Machfud
Syaefudin, Dinamika Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013,
hlm. 214.
[11] Amany
Lubis, Hermawati & Nurhasan, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Pusat
Studi wanita, 2005, hlm. 239.
[12] Machfud
Syaefudin, Dinamika Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013,
hlm. 219.
[13] Rizem
Aizid, Sejarah Peradaban Islam Terlengkap, Yogyakarta: Diva Press, 2015,
hlm. 329.332.
[14] Rizem
Aizid, Sejarah Peradaban Islam Terlengkap, Yogyakarta: Diva Press, 2015,
hlm.334-335.
[15] Akbar
S. Ahmed, Discovering Islam, Jakarta:Erlangga, 1990, hlm. 79.
[16] Machfud
Syaefudin, Dinamika Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013,
hlm. 229-234.
[18] Machfud
Syaefudin, Dinamika Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013,
hlm. 240-241.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar