I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ketahuilah
bahwa sesungguhnya dunia itu adalah musuh Allah Swt., musuh para wali-Nya, dan
musuh para musuh-Nya. Dunia menjadi musuh Allah Swt. karena ia memotong jalan
bagi para wali-Nya. Karena itu, Allah tidak memandangnya sejak Dia
menciptakannya. Adapun dunia sebagai musuh para wali Allah, karena ia
menampakkan keindahan pada mereka dan meliputi mereka dengan bunga dan
keindahannya. Sehingga mereka meminum kepahitan kesabaran dalam memutuskan
hubungan dirinya dengan dunia. Sementara dunia sebagai musuh bagi musuh-musuh
Allah, maka sesungguhnya dunia itu mengangkat mereka satu derajat demi satu
derajat dengan tipuannya dan menangkap mereka dengan jalanya. Sehingga mereka
percaya kepada dunia dan berpegang padanya. Lalu dunia itu menelantarkan mereka
pada saat mereka sangat memerlukannya.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian cinta dunia?
2.
Apa
saja yang menjadikan cinta dunia merupakan faktor utama dari sebuah kesalahan?
3.
Bagaimana
hakikat dunia dan esensinya?
II.
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Cinta Dunia
Cinta dunia adalah
perasaan tenteram terhadapnya, hingga melupakan akhirat dan melakukan
perbuatan-perbuatan yang dapat membawanya ke neraka.
Dengan sedikit
merenung saja, seseorang dapat mengetahui perbuatan pecinta dunia yang membawa
ke neraka. Bagi mereka, hanya bagaimana caranya melampiaskan syahwat dan
mencari kenikmatan, memburu wanita, minum arak, melakukan bisnis dengan cara
yang haram, mengumpulkan perhiasan (kolektor), haus jabatan, dan setiap
perbuatan yang dapat menghilangkan dahaga syahwat.
Mari kita
membayangkan apabila setiap orang hanya memikirkan dan ingin melampiaskan
syahwat? Tidak ada tujuan lain selain duniawi, hilangnya idealisme untuk
menegakkan kebenaran, tidak dapat menegakkan keadilan, tidak ada perhatian
kepada ibadah atau perbuatan yang mulia.
Allah telah
menjelaskan di dalam Al-Qur’an tentang kehidupan dunia, dimana tidak semua
kehidupan dunia diharamkan. Karena banyak sekali dari perkara keduniawian yang
dapat menopang ibadah kepada Allah dan membawa kepada kehidupan yang bahagia di
dunia. Walaupun begitu, pengendalian diri sangat diperlukan dalam menghadapi
kehidupan dunia, yaitu dengan aturan-aturan syariat. Allah berfirman,
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya
kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan
bermegah-megah anatara kamu dan berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan
anak...” (al-Hadiid: 20)
Dalam ayat lain Allah
berfirman,
“Dijadikan indah
pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di
dunia...” (Ali Imran: 14)
Tabiat manusia cenderung
kepada dunia dan bagian-bagiannya. Allah berfirman,
“Tetapi kamu
memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih
kekal.” (al-A’laa: 16-17)
Ayat ini menjelaskan
bahwa Allah memerintahkan kepada kita untuk lebih mengutamakan kehidupan
akhirat. Selain itu, dalam menjalankan kehidupan duniawi harus dilakukan dengan
penuh kehati-hatian, karena dunia penuh dengan tipuan yang bersifat
fatamorgana, sehingga muda menjadikan manusia untuk lebih memperhatikan
kehidupan dunia dan melupakan kehidupan yang hakiki. Oleh karena itu, kita
harus memiliki kemampuan untuk dapat mengendalikan kehidupan dunia dan tidak
melupakan tujuan utamanya, yaitu untuk mendapat kebahagiaan di dunia dan
akhirat.[1]
2.
Cinta Dunia Faktor Utama dari Kesalahan
Ketahuilah bahwa para nabi diutus untuk
mengajak manusia dari dunia menuju akhirat. Untuk itu diturunkan kitab-kitab.
Maka banyak ayat yang menunjukkan padanya. Diriwayatkan bahwa ketika melewati
seekor kambing yang sudah menjadi bangkai, Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah
engkau melihat kambing ini hina bagi pemiliknya?”
Para
sahabat berkata, “Benar.” Rasulullah Saw. bersabda, “Demi Zat yang
menguasai jiwaku, sesungguhnya dunia itu lebih hina bagi Allah Swt., daripada
kambing ini bagi pemiliknya. Seandainya dunia itu seimbang disisi Allah dengan
sayap seekor nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberikan minum kepada orang
kafir dari dunia seteguk airpun.”[2]
Dan sabdanya pula
الدُّنْياَسِجْنُالْمُؤْمِنِ
وَجَنَّةُالْكاَ فِرِ
“Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”
قَا لَ رَسُوْلُ ا لله صلى ا لله عليه و سلم : الدُّ نْيَامَلْعُوْ
نَةٌ مَلْعُوْ نٌ مَا فِيْهاَ أِ لاَّ مَا كَا نَ لِلّهِ مِنْهَا
“Dunia
itu terkutuk. Terkutuklah apa yang ada didalamnya kecuali yang ditujukan kepada
Allah.”
Diriwayatkan
oleh Abu Musa al-Asy’ari r.a. bahwa Rasulullah Saw. Bersabda,
“Barangsiapa
mencintai dunianya, niscaya ia akan membahayakan akhiratnya. Dan barangsiapa
mencintai akhiratnya niscaya ia akan membahayakan dunianya. Maka utamakanlah
yang kekal daripada yang binasa.”
قَا
لَ رَسُوْلُ ا لله صلى ا لله عليه و سلم : حُبُّ الدُّ نْيَا رَأْسُ كُلِّ
خَطِيْعَةٍ
“Cinta
dunia adalah pangkal setiap kesalahan.”
Didalam
sebagian khutbahnya, Rasulullah Saw. bersabda :
“Orang
mukmin itu berada diantara dua ketakutan, yaitu antara waktu yang telah
berlalu, yang tidak ia ketahui apa yang akan Allah lakukan pada waktu itu dan
antara waktu yang masih tertinggal, yang tidak ia ketahui apa yang ditetapkan
pada waktu itu. Maka tidaklah hamba menitipkan bekal untuk dirinya sendiri dari
dirinya sendiri dan dari dunianya untuk akhiratnya, dari kehidupannya untuk
kematiannya, dan dari masa mudanya untuk masa tuanya. Karena, sesungguhnya
dunia itu diciptakan untuk kamu, dan kamu diciptakan untuk akhirat. Demi Zat
yang menguasai jiwaku, sesudah kematian itu tidak ada perbaikan dan sesudah
dunia tidak ada negeri selain surga atau neraka.”
“Sesungguhnya
pasti bagi Allah bahwa Dia tidak mengangkat sesuatu dari dunia kecuali
merendahkannya.”[3]
Isa
a.s. berkata, “Barang siapa membangun sebuah rumah diatas ombak, maka itulah
dunia. Janganlah kamu mengambilnya sebagai tempat tinggal.” Dan katanya
pula : “Wahai para pengikutku, relalah dengan dunia yang hina, tetapi
agamamu selamat, sebagaimana ahli dunia rela dengan agama yang hina, tetapi
dunianya selamat.”
Ibn
Abbas berkata, “Sesungguhnya Allah Swt. menjadikan dunia menjadi tiga
bagian, yaitu satu bagian untuk orang mukmin, satu bagian untuk orang munafik,
dan satu bagian lagi untuk orang kafir. Orang mukmin menjadikannya sebagai
bekal menuju akhirat, orang munafik menjadikannya untuk perhiasan, dan orang
kafir menjadikannya untuk bersenang-senang.”
Sebagian
ahli hikmah berkata, “Hari-hari itu ialah ketika anak panah dan manusia
menjadi sasarannya. Masa itu melemparkanmu dengan anak panahnya setiap hari,
dan menguranginya dengan malam dan siangnya. Sehingga itu dapat menguasai
seluruh anggota badanmu. Maka bagaimanakah kelanggengan keselamatanmu beserta
jauhnya hari-hari darimu dan cepatnya malam-malam berlalu darimu. Andaikan
dibukakan padamu kekurangan yang didatangkan hari-hari padamu, niscaya engkau
merasa gelisah dari hari yang datang kepadamu. Perjalanan waktu terasa berat
melewatimu. Namun, pengaturan Allah diatas pemikiran manusia. Dengan menyimpang
dari dunia yang membinasakan, maka didapatkan rasa kelezatannya. Sesungguhnya
dunia itu lebih pahit daripada buah yang paling pahit apabila diiuji oleh ahli
hikmah. Sungguh perbuatan-perbuatan lahirnya dunia telah cukup untuk menyifati
celaan-celaannya.”
Ahli
hikmah yang lain berkata, “Dunia dengan hal tipuan dengan
khayalan-khayalannya, kemudian jatuh darinya setelah terlepasnya dunia itu,
menyerupai impian tidur dan igauannya.”
Rasulullah
Saw. bersabda, “Dunia adalah impian, dan pemghuninya diberi pahala dan
hukuman serta kebinasaan.”[4]
3.
Hakikat Dunia dan Esensinya
Ketahuilah
bahwa tidaklah cukup seseorang hanya mengetahui bahwa kehidupan dunia itu
tercela. Akan tetapi ia harus meengetahui apa yang tercela dari kehidupan
dunia? Apa yang harus dijauhi dari kehidupan dunia dan apa yang tidak perlu
dihindari? Oleh karena itu, harus ada penjelasan tentang perkara-perkara yang
harus dijauhi dan dijadikan musuh bagi diri seseorang karena dapat
menghalanginya menuju Allah.
Dunia dan akhirat merupakan dua
fenomena. Sesuatu yang dekat dan rendah adalah dunia, yaitu kehidupan sebelum
kematian, sedangkan yang akan datang dan terakhir disebut akhirat, yaitu
kehidupan setelah kematian. Oleh karena itu, segala yang dimiliki atau
keinginan untuk memilikinya sebelum kematian dikategorikan dunia. Akan tetapi
tidak berarti semua itu merupakan hal yang tercela, melainkan terbagi menjadi
tiga kategori.
Bagian pertama, sesuatu yang
menyertainya kepada kebahagiaan akhirat atau ia dapat pula memtik buahnya
setelah kematian. Sesuatu ini adalah ilmu dan amal saleh.
Ilmu yang dimaksud adalah ilmu tentang
mengetahui Allah (ma’rifah) baik sifat-sifatnya, perbuatan, malaikat, kitab,
para rasul, kekuasaan-Nya, dan selain itu ilmu tentang syariat yang dibawa oleh
Nabinya Muhammad Saw. Sedangkan amal saleh yang dimaksud adalah ibadah yang
dilakukan semata-mata karena Allah.
Bagian kedua, kebalikan dari
kategori pertama, yaitu kenikmatan yang diperoleh di dunia tidak membawanya
kepada kenikmatan setelah meninggal dunia atau akhirat. Seperti kenikmatan
dalam melakukan kamaksiatan atau bermewah-mewah memenuhi kebutuhan primer
seperti harta kekayaan berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak,
ladang luas, istana, rumah megah, pakaian yang mahal, dan makanan yang lezat.
Kenikmatan itu merupakan kenikmatan kehidupan dunia yang tercela.[5]
Bagian ketiga, pertengahan
diantara kategori pertama dan kedua, yaitu menjadikan kenikmatan dunia sebagai
sarana untuk mencapai kenikmatan di akhirat, seperti makanan sesuai kadar kebutuhan,
pakaian yang sederhana, dan segala sesuatu yang dicari hanya sebatas untuk
melangsungkan kehidupan dan menjaga kesehatannya, hingga ia dapat melakukan
perbuatan saleh dengan baik.
Kategori ini merupakan penopang dari
kategori pertama karena ia menjadikannya sebagai sarana dan penopang untuk
mencapai ilmu dan amal saleh yang merupakan inti dari kategori pertama.
Apabila dalam mengarungi ilmu dan
melakukan ibadah, seseorang
melaksanakannya semata-mata untuk mencapai kebahagiaan di akhirat, maka tidak
dikategorikan sebagai orang yang mencintai dunia. Akan tetapi, apabila ia
menjadikan ilmu dan amal saleh untuk mencapai kebahagiaan dunia semata-mata,
maka ia dikategorikan sebagai pencinta dunia.
Ketahuilah setelah kematian tidak ada
yang menyertai seseorang kecuali tiga perkara, yaitu kejernihan hati, yang
meliputi kesucian dari berbagai kemaksiatan, hatinya selalu berdzikir,
kecintaan kepada Allah.
Kejernihan hati dan kesuciannya tidak
akan tercapai kecuali dengan menahan diri dari berbagai syahwat dunia. Hati
yang selalu berdzikir tidak akan tercapai kecuali dengan banyak berdzikir,
sedangkan cinta kepada Allah tidak akan tercapai kecuali banyak bertafakkur.
Ketiga sifat ini akan memberikan keselamatan dan kebahagiaan kepada seseorang
setelah meninggal dunia.[6]
III.
KESIMPULAN
Cinta dunia adalah sikap mencintai
kehidupan dunia dengan melalaikan atau mengesampingkan kehidupan di akhirat
kelak. Perwujudan yang menonjol dari sifat ini adalah sikap mencintai harta
benda dengan melupakan kesadaran bahwa harta benda tidak akan bermanfaat di
alam akhirat. Sikap mencintai dunia cenderung menjadi faktor utama penyebab
timbulnya kesalahan dan sikap melupakan Allah.
DAFTAR PUSTAKA
Hawwa, Sa’id. 2005. TAZKIYATUN NAFS. Jakarta: Darus Salam.
Ghazali, Al. 2008. MUTIARA IHYA’ ‘ULUMUDDIN. Bandung: PT
Mizan Pustaka.
[1] Sa’id
Hawwa, TAZKIYATUN NAFS, (Jakarta: Darus Salam, 2005), hlm.322-323.
[2]
Al-Ghazali, MUTIARA IHYA’ ‘ULUMUDDIN, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2008),
hlm. 267-268.
[3]
Al-Ghazali, MUTIARA IHYA’ ‘ULUMUDDIN, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2008),
hlm. 269-270.
[4]
Al-Ghazali, MUTIARA IHYA’ ‘ULUMUUDIN, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2008),
hlm. 270-271.
[5] Sa’id
Hawwa, TAZKIYATUN NAFS, (Jakarta: Darus Salam, 2005), hlm. 328-330.
[6] Sa’id
Hawwa, TAZKIYATUN NAFS, (Jakarta: Darus Salam, 2005), hlm. 330.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar