Semangat Fokus Sukses


Sabtu, 02 April 2016

CINTA DUNIA FAKTOR UTAMA POROS KESALAHAN



I.              PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
          Ketahuilah bahwa sesungguhnya dunia itu adalah musuh Allah Swt., musuh para wali-Nya, dan musuh para musuh-Nya. Dunia menjadi musuh Allah Swt. karena ia memotong jalan bagi para wali-Nya. Karena itu, Allah tidak memandangnya sejak Dia menciptakannya. Adapun dunia sebagai musuh para wali Allah, karena ia menampakkan keindahan pada mereka dan meliputi mereka dengan bunga dan keindahannya. Sehingga mereka meminum kepahitan kesabaran dalam memutuskan hubungan dirinya dengan dunia. Sementara dunia sebagai musuh bagi musuh-musuh Allah, maka sesungguhnya dunia itu mengangkat mereka satu derajat demi satu derajat dengan tipuannya dan menangkap mereka dengan jalanya. Sehingga mereka percaya kepada dunia dan berpegang padanya. Lalu dunia itu menelantarkan mereka pada saat mereka sangat memerlukannya.


B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian cinta dunia?
2.      Apa saja yang menjadikan cinta dunia merupakan faktor utama dari sebuah kesalahan?
3.      Bagaimana hakikat dunia dan esensinya?










II.           PEMBAHASAN
1.      Pengertian Cinta Dunia
         Cinta dunia adalah perasaan tenteram terhadapnya, hingga melupakan akhirat dan melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat membawanya ke neraka.
         Dengan sedikit merenung saja, seseorang dapat mengetahui perbuatan pecinta dunia yang membawa ke neraka. Bagi mereka, hanya bagaimana caranya melampiaskan syahwat dan mencari kenikmatan, memburu wanita, minum arak, melakukan bisnis dengan cara yang haram, mengumpulkan perhiasan (kolektor), haus jabatan, dan setiap perbuatan yang dapat menghilangkan dahaga syahwat.
         Mari kita membayangkan apabila setiap orang hanya memikirkan dan ingin melampiaskan syahwat? Tidak ada tujuan lain selain duniawi, hilangnya idealisme untuk menegakkan kebenaran, tidak dapat menegakkan keadilan, tidak ada perhatian kepada ibadah atau perbuatan yang mulia.
         Allah telah menjelaskan di dalam Al-Qur’an tentang kehidupan dunia, dimana tidak semua kehidupan dunia diharamkan. Karena banyak sekali dari perkara keduniawian yang dapat menopang ibadah kepada Allah dan membawa kepada kehidupan yang bahagia di dunia. Walaupun begitu, pengendalian diri sangat diperlukan dalam menghadapi kehidupan dunia, yaitu dengan aturan-aturan syariat. Allah berfirman,
         “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah anatara kamu dan berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak...” (al-Hadiid: 20)
         Dalam ayat lain Allah berfirman,
         “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia...” (Ali Imran: 14)
         Tabiat manusia cenderung kepada dunia dan bagian-bagiannya. Allah berfirman,
         “Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (al-A’laa: 16-17)
         Ayat ini menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada kita untuk lebih mengutamakan kehidupan akhirat. Selain itu, dalam menjalankan kehidupan duniawi harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian, karena dunia penuh dengan tipuan yang bersifat fatamorgana, sehingga muda menjadikan manusia untuk lebih memperhatikan kehidupan dunia dan melupakan kehidupan yang hakiki. Oleh karena itu, kita harus memiliki kemampuan untuk dapat mengendalikan kehidupan dunia dan tidak melupakan tujuan utamanya, yaitu untuk mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.[1]


2.      Cinta Dunia Faktor Utama dari Kesalahan
        Ketahuilah bahwa para nabi diutus untuk mengajak manusia dari dunia menuju akhirat. Untuk itu diturunkan kitab-kitab. Maka banyak ayat yang menunjukkan padanya. Diriwayatkan bahwa ketika melewati seekor kambing yang sudah menjadi bangkai, Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah engkau melihat kambing ini hina bagi pemiliknya?”
        Para sahabat berkata, “Benar.” Rasulullah Saw. bersabda, “Demi Zat yang menguasai jiwaku, sesungguhnya dunia itu lebih hina bagi Allah Swt., daripada kambing ini bagi pemiliknya. Seandainya dunia itu seimbang disisi Allah dengan sayap seekor nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberikan minum kepada orang kafir dari dunia seteguk airpun.”[2]
        Dan sabdanya pula
الدُّنْياَسِجْنُالْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُالْكاَ فِرِ
      “Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”

قَا لَ رَسُوْلُ ا لله صلى ا لله عليه و سلم : الدُّ نْيَامَلْعُوْ نَةٌ مَلْعُوْ نٌ مَا فِيْهاَ أِ لاَّ مَا كَا نَ لِلّهِ مِنْهَا
        “Dunia itu terkutuk. Terkutuklah apa yang ada didalamnya kecuali yang ditujukan kepada Allah.”
        Diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’ari r.a. bahwa Rasulullah Saw. Bersabda,
        “Barangsiapa mencintai dunianya, niscaya ia akan membahayakan akhiratnya. Dan barangsiapa mencintai akhiratnya niscaya ia akan membahayakan dunianya. Maka utamakanlah yang kekal daripada yang binasa.”

قَا لَ رَسُوْلُ ا لله صلى ا لله عليه و سلم : حُبُّ الدُّ نْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيْعَةٍ
        “Cinta dunia adalah pangkal setiap kesalahan.”
        Didalam sebagian khutbahnya, Rasulullah Saw. bersabda :
        “Orang mukmin itu berada diantara dua ketakutan, yaitu antara waktu yang telah berlalu, yang tidak ia ketahui apa yang akan Allah lakukan pada waktu itu dan antara waktu yang masih tertinggal, yang tidak ia ketahui apa yang ditetapkan pada waktu itu. Maka tidaklah hamba menitipkan bekal untuk dirinya sendiri dari dirinya sendiri dan dari dunianya untuk akhiratnya, dari kehidupannya untuk kematiannya, dan dari masa mudanya untuk masa tuanya. Karena, sesungguhnya dunia itu diciptakan untuk kamu, dan kamu diciptakan untuk akhirat. Demi Zat yang menguasai jiwaku, sesudah kematian itu tidak ada perbaikan dan sesudah dunia tidak ada negeri selain surga atau neraka.”
        “Sesungguhnya pasti bagi Allah bahwa Dia tidak mengangkat sesuatu dari dunia kecuali merendahkannya.”[3]
        Isa a.s. berkata, “Barang siapa membangun sebuah rumah diatas ombak, maka itulah dunia. Janganlah kamu mengambilnya sebagai tempat tinggal.” Dan katanya pula : “Wahai para pengikutku, relalah dengan dunia yang hina, tetapi agamamu selamat, sebagaimana ahli dunia rela dengan agama yang hina, tetapi dunianya selamat.”
        Ibn Abbas berkata, “Sesungguhnya Allah Swt. menjadikan dunia menjadi tiga bagian, yaitu satu bagian untuk orang mukmin, satu bagian untuk orang munafik, dan satu bagian lagi untuk orang kafir. Orang mukmin menjadikannya sebagai bekal menuju akhirat, orang munafik menjadikannya untuk perhiasan, dan orang kafir menjadikannya untuk bersenang-senang.”
        Sebagian ahli hikmah berkata, “Hari-hari itu ialah ketika anak panah dan manusia menjadi sasarannya. Masa itu melemparkanmu dengan anak panahnya setiap hari, dan menguranginya dengan malam dan siangnya. Sehingga itu dapat menguasai seluruh anggota badanmu. Maka bagaimanakah kelanggengan keselamatanmu beserta jauhnya hari-hari darimu dan cepatnya malam-malam berlalu darimu. Andaikan dibukakan padamu kekurangan yang didatangkan hari-hari padamu, niscaya engkau merasa gelisah dari hari yang datang kepadamu. Perjalanan waktu terasa berat melewatimu. Namun, pengaturan Allah diatas pemikiran manusia. Dengan menyimpang dari dunia yang membinasakan, maka didapatkan rasa kelezatannya. Sesungguhnya dunia itu lebih pahit daripada buah yang paling pahit apabila diiuji oleh ahli hikmah. Sungguh perbuatan-perbuatan lahirnya dunia telah cukup untuk menyifati celaan-celaannya.”
        Ahli hikmah yang lain berkata, “Dunia dengan hal tipuan dengan khayalan-khayalannya, kemudian jatuh darinya setelah terlepasnya dunia itu, menyerupai impian tidur dan igauannya.”
        Rasulullah Saw. bersabda, “Dunia adalah impian, dan pemghuninya diberi pahala dan hukuman serta kebinasaan.”[4]



3.      Hakikat Dunia dan Esensinya
       Ketahuilah bahwa tidaklah cukup seseorang hanya mengetahui bahwa kehidupan dunia itu tercela. Akan tetapi ia harus meengetahui apa yang tercela dari kehidupan dunia? Apa yang harus dijauhi dari kehidupan dunia dan apa yang tidak perlu dihindari? Oleh karena itu, harus ada penjelasan tentang perkara-perkara yang harus dijauhi dan dijadikan musuh bagi diri seseorang karena dapat menghalanginya menuju Allah.
        Dunia dan akhirat merupakan dua fenomena. Sesuatu yang dekat dan rendah adalah dunia, yaitu kehidupan sebelum kematian, sedangkan yang akan datang dan terakhir disebut akhirat, yaitu kehidupan setelah kematian. Oleh karena itu, segala yang dimiliki atau keinginan untuk memilikinya sebelum kematian dikategorikan dunia. Akan tetapi tidak berarti semua itu merupakan hal yang tercela, melainkan terbagi menjadi tiga kategori.
        Bagian pertama, sesuatu yang menyertainya kepada kebahagiaan akhirat atau ia dapat pula memtik buahnya setelah kematian. Sesuatu ini adalah ilmu dan amal saleh.
        Ilmu yang dimaksud adalah ilmu tentang mengetahui Allah (ma’rifah) baik sifat-sifatnya, perbuatan, malaikat, kitab, para rasul, kekuasaan-Nya, dan selain itu ilmu tentang syariat yang dibawa oleh Nabinya Muhammad Saw. Sedangkan amal saleh yang dimaksud adalah ibadah yang dilakukan semata-mata karena Allah.
        Bagian kedua, kebalikan dari kategori pertama, yaitu kenikmatan yang diperoleh di dunia tidak membawanya kepada kenikmatan setelah meninggal dunia atau akhirat. Seperti kenikmatan dalam melakukan kamaksiatan atau bermewah-mewah memenuhi kebutuhan primer seperti harta kekayaan berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, ladang luas, istana, rumah megah, pakaian yang mahal, dan makanan yang lezat. Kenikmatan itu merupakan kenikmatan kehidupan dunia yang tercela.[5]
        Bagian ketiga, pertengahan diantara kategori pertama dan kedua, yaitu menjadikan kenikmatan dunia sebagai sarana untuk mencapai kenikmatan di akhirat, seperti makanan sesuai kadar kebutuhan, pakaian yang sederhana, dan segala sesuatu yang dicari hanya sebatas untuk melangsungkan kehidupan dan menjaga kesehatannya, hingga ia dapat melakukan perbuatan saleh dengan baik.
        Kategori ini merupakan penopang dari kategori pertama karena ia menjadikannya sebagai sarana dan penopang untuk mencapai ilmu dan amal saleh yang merupakan inti dari kategori pertama.
        Apabila dalam mengarungi ilmu dan melakukan  ibadah, seseorang melaksanakannya semata-mata untuk mencapai kebahagiaan di akhirat, maka tidak dikategorikan sebagai orang yang mencintai dunia. Akan tetapi, apabila ia menjadikan ilmu dan amal saleh untuk mencapai kebahagiaan dunia semata-mata, maka ia dikategorikan sebagai pencinta dunia.
        Ketahuilah setelah kematian tidak ada yang menyertai seseorang kecuali tiga perkara, yaitu kejernihan hati, yang meliputi kesucian dari berbagai kemaksiatan, hatinya selalu berdzikir, kecintaan kepada Allah.
        Kejernihan hati dan kesuciannya tidak akan tercapai kecuali dengan menahan diri dari berbagai syahwat dunia. Hati yang selalu berdzikir tidak akan tercapai kecuali dengan banyak berdzikir, sedangkan cinta kepada Allah tidak akan tercapai kecuali banyak bertafakkur. Ketiga sifat ini akan memberikan keselamatan dan kebahagiaan kepada seseorang setelah meninggal dunia.[6]






                                          
III.        KESIMPULAN
              Cinta dunia adalah sikap mencintai kehidupan dunia dengan melalaikan atau mengesampingkan kehidupan di akhirat kelak. Perwujudan yang menonjol dari sifat ini adalah sikap mencintai harta benda dengan melupakan kesadaran bahwa harta benda tidak akan bermanfaat di alam akhirat. Sikap mencintai dunia cenderung menjadi faktor utama penyebab timbulnya kesalahan dan sikap melupakan Allah.

DAFTAR PUSTAKA
Hawwa, Sa’id. 2005. TAZKIYATUN NAFS. Jakarta: Darus Salam.
Ghazali, Al. 2008. MUTIARA IHYA’ ‘ULUMUDDIN. Bandung: PT Mizan Pustaka.


[1] Sa’id Hawwa, TAZKIYATUN NAFS, (Jakarta: Darus Salam, 2005), hlm.322-323.
[2] Al-Ghazali, MUTIARA IHYA’ ‘ULUMUDDIN, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2008), hlm. 267-268.
[3] Al-Ghazali, MUTIARA IHYA’ ‘ULUMUDDIN, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2008), hlm. 269-270.
[4] Al-Ghazali, MUTIARA IHYA’ ‘ULUMUUDIN, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2008), hlm. 270-271.
[5] Sa’id Hawwa, TAZKIYATUN NAFS, (Jakarta: Darus Salam, 2005), hlm. 328-330.
[6] Sa’id Hawwa, TAZKIYATUN NAFS, (Jakarta: Darus Salam, 2005), hlm. 330.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar