I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Salah
satu persoalan ‘Ulum Al-Qur’an yang masih diperdebatkan sampai sekarang adalah
kategorisasi muhkam-mutasyabih. Telaah dan perdebatan seputar masalah ini telah
banyak mengisi lembaran khazanah keilmuan Islam, terutama menyangkut penafsiran
Al-Qur’an. Perdebatan itu tidak saja melibatkan sarjana-sarjana muslim karena
sarjana-sarjana Barat pun ikut mewarnainya.
Diantara
sarjana muslim yang cukup intens membicarakan perseoalan muhkam-mutasyabih
adalah ‘Ali bin Hamzah Al-Kisa’i. Sarjana muslim yang terkenal sebagai pakar
qira’ah ini memliki karya penting tentang muhkam-mutasyabih, yaitu kitab
Al-Mutasyabihat fi Al-Qur’an. Karya ini dianggap penting karena berupaya
menghimpun teks-teks Al-Qur’an yang masuk kedalam kategori mutasyabih.[1]
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian muhkam dan mutasyabih?
2.
Bagaimana
pandangan para ulama tentang ayat-ayat muhkam dan mutasyabih?
3.
Apa
sebab-sebab terjadinya tasyabuh dalam Al-Qur’an?
4.
Apa
saja hikmah keberadaan ayat mutasyabih dalam Al-Qur’an?
II.
PEMBAHASAN
1. Pengertian muhkam dan mutasyabih
Muhkam
berasal dari kata ihkam, menurut etimologi (bahasa), muhkam artinya suatu
ungkapan yang dimaksud makna lahirnya tidak mungkin diganti atau diubah (ma
ahkam Al-murad bib ‘an al-tabdil wa at-taghyir). Adapun mutasyabih berasal dari
kata tasyabuh yaitu ungkapan yang dimaksud makna lahirnya samar (ma khafiya bi
nafs Al-lafzh).
Adapun
menurut pengertian terminologi (istilah), muhkam dan mutasyabih diungkpakan
para ulama, seperti berikut ini.
1.
Ayat-ayat
muhkam adalah ayat yang dimaksudnya dapat diketahui dengan gamblang, baik
melalui takwil (metafora) ataupun tidak. Sementara itu, ayat-ayat mutasyabih
adalah ayat yang dimaksudnya hanya dapat diketahui Allah, seperti kedatangan
hari kiamat, keluarnya Dajjal, dan huruf-huruf muqathatha’ah. Definisi ini
dikemukakan kelompok Ahlusunnah.
2.
Ayat-ayat
muhkam adalah ayat yang maknanya jelas, sedangkan ayat-ayat mutasyabih
sebaliknya.
3.
Ayat-ayat
muhkam adalah ayat yang tidak memunculkan kemungkinan sisi arti lain, sedangkan
ayat-ayat mutasyabih mempunyai kemungkinan sisi arti banyak. Definisi ini
dikemukakan Ibn ‘Abbas.
4.
Ayat-ayat
muhkam adalah ayat yang maknanya dapat dipahami akal, seperti bilangan rakaat
shalat, kekhususan bulan ramadhan untuk pelaksanaan puasa wajib, sedangkan
ayat-ayat mutasyabih sebaliknya. Pendapat ini dikemukakan Al-Mawardi.
5.
Ayat
–ayat muhkam adalah ayat yang dapat berdiri sendiri (dalam pemaknaannya),
sedangkan ayat-ayat mutasyabih tergantung pada ayat lain.
6.
Ayat-ayat
muhkam adalah ayat yang maksudnya sudah dapat diketahui tanpa penakwilan,
sedangkan ayat-ayat mutasyabih memerlukan penakwilan untuk mengetahui
maksudnya.
7.
Ayat-ayat
muhkam adalah ayat yang lafazh-lafazhnya tidak berulang-ulang, sedangkan
ayat-ayat mutasyabih sebaliknya.
8.
Ayat-ayat
muhkam adalah ayat yang berbicara tentang kefardhuan, ancaman, dan janji,
sedangkan ayat-ayat mutasyabih berbiacara tentang kisah-kisah dan
perumpamaan-perumpamaan.[2]
2. Pandangan para ulama tentang
ayat-ayat muhkam dan mutasyabih
Telah
dikemukakan bahwa ayat-ayat mutasyabih itu berbagai macam sebab dan bentuknya.
Dalam bagian ini, pembahasan khusus mengenai ayat-ayat mutasyabih yang
menyangkut sifat-sifat Tuhan yang dalam istilah As-Syuyuti “ayat Al-Shifat”,
dan dalam istilah Shubhi Al-Shalih “Mutasyabih Al-Shifat”. Ayat-ayat yang masuk
dalam kategori ini banyak. Diantarannya:
1.
اَلرَّحْمَنُعَلَئالْعَرْشِاسْتَوَ
“Yaitu
Tuhan Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas Arsy”. (Q.S. Thaha:5)
2.
وَجَاءَرَبُّكَوَاْلْمَلَكُصَفًّاصَفًّا
“dan
datanglah Tuhanmu, sedang malaikat berbaris-baris”. (Q.S. Al-Fajr:22)
3.
وَهُوَالْقَاهِرُفَوْقَءِباَدِهِ
“Dan
dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya”. (Q.S.
Al-An’am:61)
4.
يَحَسْرَتَءللَىماَفَرَّطْتُفِىجَنْبِ اللهِ
“Amat
besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap
Allah”. (Q.S. Al-Zumar:56)
5.
وَيَبْقَىوَجْهُرَبِّكَذُوْاالْجَلَ لِوالأِكْرَامِ
“Dan
kekallah wajah Tuhanmu”. (Q.S. Ar-Rahman:27)
6.
وَلِتُصْنَعَءلَىءَيْنِى
“Dan
supaya kamu diasuh di atas mata-Ku”. (Q.S. Thaha:391)[3]
7.
يَدُاللّهِفَوْقَ اَيْدِيْهِمْ
“Tangan
Allah diatas tangan mereka”. (Q.S. Al-Fath:10)
8.
وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَههُ
“...Dan
Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya”. (Q.S. Ali Imran:28)[4]
Dalam ayat ini
terdapat kata-kata “bersemayam” “datang”, “di atas”, “sisi”, “wajah”, “mata”,
“tangan”, dan “diri” yang dibanggakan atau dijadikan sifat bagi Allah.
Kata-kata ini menunjukkan keadaan, tempat, dan anggota yang layak bagi makhluk
yang baharu. Karena dalam ayat-ayat tersebut kata-kata ini dibangsakan kepada
Allah yang qadim (absolut), maka sulit dipahami maksud yang sebenarnya. Karena
ittu pula, ayat-ayat tersebut dinamakan “Mutasyabih Al-Shifat”. Selanjutnya,
dipertanyakan : Apakah maksud ayat-ayat ini dapat diketahui manusia atau tidak?
Untuk
menjawab pertanyaan ini, Subhi Al-Shalih membedakan pemdapat ulama ke dalam dua
mazhab.
1.
Mazhab
Salaf, yaitu orang-orang yang mempercayai dan mengimani sifat-sifat mutasyabih
itu dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah sendiri. Mereka mensucikan Allah
dari pengertian-pengertian lahir ya g mustahil ini bagi Allah dan mengimaninya
sebagaimana yang diterangkan Al-Qur’an serta menyerahkan urusan mengetahui
hakikatnya kepada Allah sendiri. Karena mereka menyerahkan urusan mengetahui
hakikat maksud ayat-ayat ini kepada Allah, mereka disebut pula mazhab
Mufawwidah atau Tafwid.
2.
Mazhab
Khalaf, yaitu ulama yang menakwilkan lafal yang makna lahirnya mustahil kepada
makna yang lain kepada zat Allah. Karena itu mereka itu disebut pula Muawwilah
atau mazhab Takwil. Mereka memaknakan istiwa’ dengan ketinggian yang abstrak,
berupa pengendalian Allah terhadap alam ini tanpa merasa kepayahan. Kedatangan
Allah diartikan dengan kedatangan perintahnya, Allah berada diatas hamba-Nya
dengan Allah Maha Tinggi, bukan berada disuatu tempat, “sisi” Allah dengan hak
Allah. “wajah” dengan zat “mata” dengan pemgawasan, “tangan” dengan kekuasaan,
dan “diri” dengan siksa. Demikian sistem penafsiran ayat-ayat mutasyabih yang
ditempuh oleh para ulama Khalaf.
3.
Sebab-sebab terjadinya tasyabuh dalam Al-Qur’an
Dan secara ringkas dapat dikatakan bahwa sebab
tasyabuh atau mutasyabih adalah ketersembunyian maksud bahwa ketersembunyian
itu bisa kembali kepada lafal atau kepada makna atau kepada lafal dan makna
sekaligus. Contoh ketersembunyian dalam lafal adalah
وَفاَكِهَتًوَأَبّاًlafal أَبً
Disini
mutasyabih karena ganjilnya dan jarangnya digunakan. Kata أَبٌ diartikan
rumput-rumputan.
Mutasyabih
yang timbul dari ketersembunyian pada makna adalah ayat-ayat mutasyabih tentang
sifat-sifat Tuhan.
Dan
mutasyabih yang timbul dari ketersembunyian pada makna dan lafal sekaligus
seperti yang terdapat pada Q.S. Al-Baqarah:189.
Kemudian
menurut Al-Zarqani, ayat-ayat mutasyabih dapat dibagi menjadi tiga macam.
1.
Ayat-ayat
yang seluruh manusia tidak dapat sampai kepada maksudnya, seperti pengetahuan
tentang zat Allah dan hakikat sifat-sifat-Nya, pengetahuan tentang waktu kiamat
dan hal-hal gaib lainnya.
2.
Ayat-ayat
yang setiap orang bisa mengetahui maksudnya melalui penelitian dan pengkajian,
seperti ayat-ayat mutasyabih yang kesamarannya timbul akibat ringkas, panjang,
urutan, dan seumpamannya.[5]
3.
Ayat-ayat
mutasyabih yang maksudnya dapat diketahui oleh para ulama tertentu dan bukan
semua ulama. Maksud yang demikian adalah makna-makna yang tinggi yang memenuhi
hati orang-orang jernih jiwanya.
4.
Hikmah Keberadaan ayat mutasyabih dalam Al-Qur’an
Diantara hikmah keberadaan ayat-ayat
mutasyabih di dalam Al-Qur’an dan ketidakmampuan akal untuk mengetahuinya
adalah berikut ini:
1.
Memperlihatkan
kelemahan akal manusia
2.
Teguran
bagi orang-orang yang mengotak-atik ayat mutasyabih
3.
Memberikan
pemahaman abstrak-ilahiah kepada manusia melalui pengalaman indrawi yang biasa
disaksikannya[6]
3.
KESIMPULAN
Muhkam adalah ayat-ayat yang maknanya sudah jelas, tidak samar lagi.
Masuk ke dalam katagori muhkam adalah nash (kata yang menunjukkan sesuatu yang
dimaksud dengan terang dan tegas, dan memang untuk makna itu ia disebutkan) dan
dzahir (makna lahir). Adpaun mutasyabih adalah ayat-ayat yang maknanya belum
jelas. Masuk ke dalam katagori mutasyabih adalah mujmal (global), mu’awwal
(harus ditakwil), musykil, dan mubham (ambigius).
DAFTAR
PUSTAKA
Anwar, Rosihon. 2012. ULUM AL-QURAN. Bandung:CV PUSTAKA
SETIA.
Syadali, Ahmad
dan Ahmad Rofi’i. 1997. ULUMUL QURAN. Bandung:CV PUSTAKA SETIA.
[1] Rosihon
Anwar, ULUM AL-QURAN, (Bandung:CV PUSTAKA SETIA,2012), hlm.119.
[2] Rosihon
Anwar, ULUM AL-QURAN, (Bandung:CV PUSTAKA SETIA,2012), hlm. 120-121.
[3] Ahmad
Syadali dan Ahmad Rofi’i, ULUMUL QURAN, (Bandung:CV PUSTAKA SETIA,1997),
hlm. 209-210.
[4] Ahmad
Syadali dan Ahmad Rofi’i, ULUMUL QURAN, (Bandung:CV PUSTAKA SETIA,
1997), hlm. 210-217.
[5] Ahmad
Syadali dan Ahmad Rofi’i, ULUMUL QURAN, (Bandung:CV PUSTAKA SETIA,
1997), hlm. 204-208
[6] Rosihon
Anwar, ULUM AL-QURAN, (Bandung:CV PUSTAKA SETIA, 2012), hlm.14-135.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar