Semangat Fokus Sukses


Sabtu, 02 April 2016

AL MUHKAM WAL MUTASYABIH



I.              PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
                          Salah satu persoalan ‘Ulum Al-Qur’an yang masih diperdebatkan sampai sekarang adalah kategorisasi muhkam-mutasyabih. Telaah dan perdebatan seputar masalah ini telah banyak mengisi lembaran khazanah keilmuan Islam, terutama menyangkut penafsiran Al-Qur’an. Perdebatan itu tidak saja melibatkan sarjana-sarjana muslim karena sarjana-sarjana Barat pun ikut mewarnainya.
                          Diantara sarjana muslim yang cukup intens membicarakan perseoalan muhkam-mutasyabih adalah ‘Ali bin Hamzah Al-Kisa’i. Sarjana muslim yang terkenal sebagai pakar qira’ah ini memliki karya penting tentang muhkam-mutasyabih, yaitu kitab Al-Mutasyabihat fi Al-Qur’an. Karya ini dianggap penting karena berupaya menghimpun teks-teks Al-Qur’an yang masuk kedalam kategori mutasyabih.[1]


B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian muhkam dan mutasyabih?
2.      Bagaimana pandangan para ulama tentang ayat-ayat muhkam dan mutasyabih?
3.      Apa sebab-sebab terjadinya tasyabuh dalam Al-Qur’an?
4.      Apa saja hikmah keberadaan ayat mutasyabih dalam Al-Qur’an?








II.           PEMBAHASAN
1. Pengertian muhkam dan mutasyabih
                           Muhkam berasal dari kata ihkam, menurut etimologi (bahasa), muhkam artinya suatu ungkapan yang dimaksud makna lahirnya tidak mungkin diganti atau diubah (ma ahkam Al-murad bib ‘an al-tabdil wa at-taghyir). Adapun mutasyabih berasal dari kata tasyabuh yaitu ungkapan yang dimaksud makna lahirnya samar (ma khafiya bi nafs Al-lafzh).
                          Adapun menurut pengertian terminologi (istilah), muhkam dan mutasyabih diungkpakan para ulama, seperti berikut ini.
1.      Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang dimaksudnya dapat diketahui dengan gamblang, baik melalui takwil (metafora) ataupun tidak. Sementara itu, ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang dimaksudnya hanya dapat diketahui Allah, seperti kedatangan hari kiamat, keluarnya Dajjal, dan huruf-huruf muqathatha’ah. Definisi ini dikemukakan kelompok Ahlusunnah.
2.      Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maknanya jelas, sedangkan ayat-ayat mutasyabih sebaliknya.
3.      Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang tidak memunculkan kemungkinan sisi arti lain, sedangkan ayat-ayat mutasyabih mempunyai kemungkinan sisi arti banyak. Definisi ini dikemukakan Ibn ‘Abbas.
4.      Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maknanya dapat dipahami akal, seperti bilangan rakaat shalat, kekhususan bulan ramadhan untuk pelaksanaan puasa wajib, sedangkan ayat-ayat mutasyabih sebaliknya. Pendapat ini dikemukakan Al-Mawardi.
5.      Ayat –ayat muhkam adalah ayat yang dapat berdiri sendiri (dalam pemaknaannya), sedangkan ayat-ayat mutasyabih tergantung pada ayat lain.
6.      Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya sudah dapat diketahui tanpa penakwilan, sedangkan ayat-ayat mutasyabih memerlukan penakwilan untuk mengetahui maksudnya.
7.      Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang lafazh-lafazhnya tidak berulang-ulang, sedangkan ayat-ayat mutasyabih sebaliknya.
8.      Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang berbicara tentang kefardhuan, ancaman, dan janji, sedangkan ayat-ayat mutasyabih berbiacara tentang kisah-kisah dan perumpamaan-perumpamaan.[2]

2. Pandangan para ulama tentang ayat-ayat muhkam dan mutasyabih
               Telah dikemukakan bahwa ayat-ayat mutasyabih itu berbagai macam sebab dan bentuknya. Dalam bagian ini, pembahasan khusus mengenai ayat-ayat mutasyabih yang menyangkut sifat-sifat Tuhan yang dalam istilah As-Syuyuti “ayat Al-Shifat”, dan dalam istilah Shubhi Al-Shalih “Mutasyabih Al-Shifat”. Ayat-ayat yang masuk dalam kategori ini banyak. Diantarannya:
1.     اَلرَّحْمَنُعَلَئالْعَرْشِاسْتَوَ
“Yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas Arsy”. (Q.S. Thaha:5)
2.      وَجَاءَرَبُّكَوَاْلْمَلَكُصَفًّاصَفًّا
“dan datanglah Tuhanmu, sedang malaikat berbaris-baris”. (Q.S. Al-Fajr:22)
3.      وَهُوَالْقَاهِرُفَوْقَءِباَدِهِ
“Dan dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya”. (Q.S. Al-An’am:61)
4.      يَحَسْرَتَءللَىماَفَرَّطْتُفِىجَنْبِ اللهِ
“Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah”. (Q.S. Al-Zumar:56)
5.      وَيَبْقَىوَجْهُرَبِّكَذُوْاالْجَلَ لِوالأِكْرَامِ
“Dan kekallah wajah Tuhanmu”. (Q.S. Ar-Rahman:27)
6.      وَلِتُصْنَعَءلَىءَيْنِى
“Dan supaya kamu diasuh di atas mata-Ku”. (Q.S. Thaha:391)[3]
7.      يَدُاللّهِفَوْقَ اَيْدِيْهِمْ
“Tangan Allah diatas tangan mereka”. (Q.S. Al-Fath:10)
8.      وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَههُ
“...Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya”. (Q.S. Ali Imran:28)[4]

                           Dalam ayat ini terdapat kata-kata “bersemayam” “datang”, “di atas”, “sisi”, “wajah”, “mata”, “tangan”, dan “diri” yang dibanggakan atau dijadikan sifat bagi Allah. Kata-kata ini menunjukkan keadaan, tempat, dan anggota yang layak bagi makhluk yang baharu. Karena dalam ayat-ayat tersebut kata-kata ini dibangsakan kepada Allah yang qadim (absolut), maka sulit dipahami maksud yang sebenarnya. Karena ittu pula, ayat-ayat tersebut dinamakan “Mutasyabih Al-Shifat”. Selanjutnya, dipertanyakan : Apakah maksud ayat-ayat ini dapat diketahui manusia atau tidak?
               Untuk menjawab pertanyaan ini, Subhi Al-Shalih membedakan pemdapat ulama ke dalam dua mazhab.
1.      Mazhab Salaf, yaitu orang-orang yang mempercayai dan mengimani sifat-sifat mutasyabih itu dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah sendiri. Mereka mensucikan Allah dari pengertian-pengertian lahir ya g mustahil ini bagi Allah dan mengimaninya sebagaimana yang diterangkan Al-Qur’an serta menyerahkan urusan mengetahui hakikatnya kepada Allah sendiri. Karena mereka menyerahkan urusan mengetahui hakikat maksud ayat-ayat ini kepada Allah, mereka disebut pula mazhab Mufawwidah atau Tafwid.
2.      Mazhab Khalaf, yaitu ulama yang menakwilkan lafal yang makna lahirnya mustahil kepada makna yang lain kepada zat Allah. Karena itu mereka itu disebut pula Muawwilah atau mazhab Takwil. Mereka memaknakan istiwa’ dengan ketinggian yang abstrak, berupa pengendalian Allah terhadap alam ini tanpa merasa kepayahan. Kedatangan Allah diartikan dengan kedatangan perintahnya, Allah berada diatas hamba-Nya dengan Allah Maha Tinggi, bukan berada disuatu tempat, “sisi” Allah dengan hak Allah. “wajah” dengan zat “mata” dengan pemgawasan, “tangan” dengan kekuasaan, dan “diri” dengan siksa. Demikian sistem penafsiran ayat-ayat mutasyabih yang ditempuh oleh para ulama Khalaf.
                                                                                               
3.      Sebab-sebab terjadinya tasyabuh dalam Al-Qur’an
          Dan secara ringkas dapat dikatakan bahwa sebab tasyabuh atau mutasyabih adalah ketersembunyian maksud bahwa ketersembunyian itu bisa kembali kepada lafal atau kepada makna atau kepada lafal dan makna sekaligus. Contoh ketersembunyian dalam lafal adalah
 وَفاَكِهَتًوَأَبّاًlafal  أَبً
Disini mutasyabih karena ganjilnya dan jarangnya digunakan. Kata أَبٌ diartikan rumput-rumputan.
Mutasyabih yang timbul dari ketersembunyian pada makna adalah ayat-ayat mutasyabih tentang sifat-sifat Tuhan.
Dan mutasyabih yang timbul dari ketersembunyian pada makna dan lafal sekaligus seperti yang terdapat pada Q.S. Al-Baqarah:189.
Kemudian menurut Al-Zarqani, ayat-ayat mutasyabih dapat dibagi menjadi tiga macam.
1.      Ayat-ayat yang seluruh manusia tidak dapat sampai kepada maksudnya, seperti pengetahuan tentang zat Allah dan hakikat sifat-sifat-Nya, pengetahuan tentang waktu kiamat dan hal-hal gaib lainnya.
2.      Ayat-ayat yang setiap orang bisa mengetahui maksudnya melalui penelitian dan pengkajian, seperti ayat-ayat mutasyabih yang kesamarannya timbul akibat ringkas, panjang, urutan, dan seumpamannya.[5]
3.      Ayat-ayat mutasyabih yang maksudnya dapat diketahui oleh para ulama tertentu dan bukan semua ulama. Maksud yang demikian adalah makna-makna yang tinggi yang memenuhi hati orang-orang jernih jiwanya.
4.      Hikmah Keberadaan ayat mutasyabih dalam Al-Qur’an
         Diantara hikmah keberadaan ayat-ayat mutasyabih di dalam Al-Qur’an dan ketidakmampuan akal untuk mengetahuinya adalah berikut ini:
1.      Memperlihatkan kelemahan akal manusia
2.      Teguran bagi orang-orang yang mengotak-atik ayat mutasyabih
3.      Memberikan pemahaman abstrak-ilahiah kepada manusia melalui pengalaman indrawi yang biasa disaksikannya[6]


3.                          KESIMPULAN
                          Muhkam adalah ayat-ayat yang maknanya sudah jelas, tidak samar lagi. Masuk ke dalam katagori muhkam adalah nash (kata yang menunjukkan sesuatu yang dimaksud dengan terang dan tegas, dan memang untuk makna itu ia disebutkan) dan dzahir (makna lahir). Adpaun mutasyabih adalah ayat-ayat yang maknanya belum jelas. Masuk ke dalam katagori mutasyabih adalah mujmal (global), mu’awwal (harus ditakwil), musykil, dan mubham (ambigius).

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihon. 2012. ULUM AL-QURAN. Bandung:CV PUSTAKA SETIA.
Syadali, Ahmad dan Ahmad Rofi’i. 1997. ULUMUL QURAN. Bandung:CV             PUSTAKA SETIA.


[1] Rosihon Anwar, ULUM AL-QURAN, (Bandung:CV PUSTAKA SETIA,2012), hlm.119.
[2] Rosihon Anwar, ULUM AL-QURAN, (Bandung:CV PUSTAKA SETIA,2012), hlm. 120-121.
[3] Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi’i, ULUMUL QURAN, (Bandung:CV PUSTAKA SETIA,1997), hlm. 209-210.
[4] Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi’i, ULUMUL QURAN, (Bandung:CV PUSTAKA SETIA, 1997), hlm. 210-217.
[5] Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi’i, ULUMUL QURAN, (Bandung:CV PUSTAKA SETIA, 1997), hlm. 204-208
[6] Rosihon Anwar, ULUM AL-QURAN, (Bandung:CV PUSTAKA SETIA, 2012), hlm.14-135.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar