I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Kota
Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, Indonesia sekaligus kota
metropolitan terbesar kelima di Indonesia sesudah Jakarta, Surabaya, Bandung,
dan Medan. Sebagai salah satu kota paling berkembang di Pulau Jawa, Kota
Semarang mempunyai jumlah penduduk yang hampir mencapai 2,5 juta jiwa. Kota ini
terletak sekitar 558 km sebelah timur Jakarta, atau 312 km sebelah barat
Surabaya, atau 621 km sebelah barat daya Banjarmasin. Semarang berbatasan
dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Demak di timur, Kabupaten Semarang di
selatan, dan Kabupaten Kendal di barat. Luas Kota Semarang 373.67 km2. Kota Semarang sering dijuluki Kota Atlas, Kota
Lumpia The Porth of Java, dan Semarang Pesona Asia. Dan bagaimana asal-usul
kota semarang? Laporan ini akan membahas mengenai sosok pendiri Kota Semarang
serta bagaimana sejarah berdirinya Kota Semarang.
B.
Rumusan Masalah
a.
Siapakah pendiri
Kota Semarang?
b.
Bagaimana sejarah
berdirinya Kota Semarang?
C.
Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan laporan mini riset ini
adalah :
a.
Mengetahui siapa
tokoh pendiri Kota Semarang
b.
Mengetahui bagaimana
sejarah berdirinya Kota Semarang
D.
Waktu Pelaksanaan Penelitian
Penelitian dilakukan pada tanggal 16
Maret 2016 jam 09.00 WIB di Kelurahan Mugassari, Semarang Selatan.
E.
Metode Penulisan
Metode yang dilakukan penulis
diantaranya:
a.
Wawancara
b.
Study dokumentasi
dan observasi
c.
Rekaman video
d.
Gambar foto
e.
Catatan di lapangan
penelitian
f.
Internet
II.
PEMBAHASAN
A.
Tokoh Pendiri Kota Semarang
Ki Ageng Pandan Arang
(disebut juga Pandanaran, Pandanaran I) adalah bupati pertama Semarang,
yang diangkat oleh sultan Demak Bintara.
Konon nama Semarang diberikan olehnya, karena di tempat ia tinggal ditumbuhi
oleh pohon asam yang jarang-jarang (bahasa Jawa:
asem arang). Tokoh ini juga dikenal sebagai penyebar Islam
di daerah tersebut. Meskipun sezaman dengan para Walisongo,
ia tidak termasuk ke dalamnya. Berdasarkan arsip De Gouverneur Van Java, dia
pun dikenal sebagai sultan bayat atau kiyai gede semarang.
Tokoh
ini berkedudukan di Pragota, yang sekarang adalah tempat bernama Bergota di
kelurahan Randusari, Semarang Selatan.
Dahulu Pragota berada sangat dekat dengan pantai, karena wilayah Kota Lama
Semarang merupakan daratan baru karena endapanan proses pengangkatan kerak
bumi. Semarang diberikan kepada Pandan Arang oleh Sultan Demak.
Raden Pandanaran
adalah putra dari Pangeran Suryo Panembahan
Sabrang Lor (sultan kedua Kesultanan
Demak) yang menolak tahta karena lebih suka memilih mendalami
spiritualitas. Makamnya terletak di wilayah Kelurahan Mugassari, Semarang Selatan.
B.
Sejarah Berdirinya Kota Semarang
Sejarah Semarang berawal kurang lebih pada abad ke-8
M, yaitu daerah pesisir yang bernama Pragota (sekarang menjadi Bergota) dan
merupakan bagian dari kerajaan
Mataram Kuno. Daerah tersebut pada masa itu merupakan
pelabuhan dan di depannya terdapat gugusan pulau-pulau kecil. Akibat
pengendapan, yang hingga sekarang masih terus berlangsung, gugusan tersebut
sekarang menyatu membentuk daratan. Bagian kota Semarang Bawah yang dikenal
sekarang ini dengan demikian dahulu merupakan laut. Pelabuhan tersebut diperkirakan
berada di daerah Pasar Bulu sekarang dan memanjang masuk ke Pelabuhan Simongan,
tempat armada Laksamana Cheng Ho bersandar pada tahun 1405 M. Di tempat pendaratannya, Laksamana Cheng Ho
mendirikan kelenteng dan mesjid yang sampai sekarang masih dikunjungi dan
disebut Kelenteng
Sam Po Kong (Gedung Batu).
Pada akhir abad ke-15 M ada seseorang ditempatkan oleh
Kerajaan Demak, dikenal sebagai Pangeran
Made Pandan (Sunan Pandanaran I), untuk
menyebarkan agama Islam dari perbukitan Pragota. Dari waktu ke waktu daerah itu
semakin subur, dari sela-sela kesuburan itu munculah pohon asam yang jarang
(bahasa Jawa: Asem Arang), sehingga memberikan nama daerah itu Semarang
dari kata Asem Arang.
Sebagai pendiri desa, kemudian menjadi kepala daerah
setempat, dengan gelar Kyai
Ageng Pandan Arang I. Sepeninggalnya, pimpinan daerah dipegang
oleh putranya yang bergelar Pandan Arang II. Di bawah pimpinan Pandan Arang II,
daerah Semarang semakin menunjukkan pertumbuhannya yang meningkat, sehingga
menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Karena persyaratan peningkatan daerah dapat dipenuhi, maka diputuskan
untuk menjadikan Semarang setingkat dengan Kabupaten.
Pada tanggal 2 Mei 1547 bertepatan dengan peringatan maulid Nabi
Muhammad SAW, tanggal 12 rabiul awal tahun 954 H disahkan oleh Sultan Hadiwijaya setelah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga. Tanggal 2 Mei kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Semarang.
Kemudian pada tahun 1678 Amangkurat II dari Mataram,
berjanji kepada VOC untuk memberikan Semarang sebagai pembayaran hutangnya, dia
mengklaim daerah Priangan dan pajak dari pelabuhan pesisir sampai hutangnya
lunas. Pada tahun 1705 Susuhunan Pakubuwono I menyerahkan Semarang kepada VOC sebagai bagian dari
perjanjiannya karena telah dibantu untuk merebut Kartasura. Sejak saat itu
Semarang resmi menjadi kota milik VOC dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda.
Pada tahun 1906 dengan Stanblat Nomor 120 tahun 1906
dibentuklah Pemerintah Gemeente. Pemerintah kota besar ini dikepalai oleh
seorang Burgemeester (Wali kota). Sistem Pemerintahan ini dipegang oleh
orang-orang Belanda berakhir pada tahun 1942 dengan datangya pemerintahan
pendudukan Jepang.
Pada masa Jepang terbentuklah pemerintah daerah Semarang
yang dikepalai Militer (Shico) dari Jepang. Didampingi oleh dua orang wakil (Fuku Shico) yang
masing-masing dari Jepang dan seorang bangsa Indonesia. Tidak lama sesudah
kemerdekaan, yaitu tanggal 15 sampai 20 Oktober 1945 terjadilah peristiwa kepahlawanan
pemuda-pemuda Semarang yang bertempur melawan balatentara Jepang yang
bersikeras tidak bersedia menyerahkan diri kepada Pasukan Republik. Perjuangan
ini dikenal dengan nama Pertempuran
Lima Hari.
Tahun 1946 Inggris atas nama Sekutu menyerahkan kota Semarang kepada pihak Belanda. Ini terjadi pada tanggal
l6 Mei 1946. Tanggal 3 Juni 1946 dengan tipu muslihatnya, pihak Belanda
menangkap Mr. Imam Sudjahri, wali kota Semarang sebelum proklamasi
kemerdekaan. Selama masa pendudukan Belanda tidak ada pemerintahan daerah kota
Semarang. Namun para pejuang di bidang pemerintahan tetap menjalankan pemerintahan
di daerah pedalaman atau daerah pengungsian di luar kota sampai dengan bulan
Desember 1948. daerah pengungsian berpindah-pindah mulai dari kota Purwodadi,
Gubug, Kedungjati, Salatiga, dan akhirnya di Yogyakarta. Pimpinan pemerintahan
berturut-turut dipegang oleh R Patah, R.Prawotosudibyo dan Mr Ichsan.
Pemerintahan pendudukan Belanda yang dikenal dengan
Recomba berusaha membentuk kembali pemerintahan Gemeente seperti di masa
kolonial dulu di bawah pimpinan R Slamet Tirtosubroto. Hal itu tidak berhasil,
karena dalam masa pemulihan kedaulatan harus menyerahkan kepada Komandan KMKB
Semarang pada bulan Februari 1950. tanggal I April 1950 Mayor Suhardi, Komandan
KMKB. menyerahkan kepemimpinan pemerintah daerah Semarang kepada Mr
Koesoedibyono, seorang pegawai tinggi Kementerian Dalam Negeri di Yogyakarta.
Ia menyusun kembali aparat pemerintahan guna memperlancar jalannya
pemerintahan.
III.
KESIMPULAN
Kota Semarang berasal dari kata
Asem yang jarang-jarang. Dibuka dan didirikan pertama kali oleh Ki Ageng
Pandanaran.
IV.
LAMPIRAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar